Suarakampus.com– Sayup-sayup suara menggema dari sudut panggung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang, Kota Padang, Selasa (3/6), diiringi kerlap-kerlip lampu merah redup dan cahaya putih yang menyapu panggung. Kilatan biru bersahutan dengan kuning dan oranye membangun suasana tegang sekaligus magis, menandai dimulainya pertunjukan teater Giran Sani dalam Festival Tanggal 3.
Lampu biru menyorot panggung. Tiga laki-laki muncul dari arah berlawanan, mengenakan celana putih bermotif batik dengan kain putih melilit pinggang. Mereka mengitari tengah panggung perlahan. Tepukan tangan terdengar pelan, “plak… plak…”, lalu semakin cepat, berpadu dengan permainan kain putih yang meliuk. Iringan suara lirih dari balik tembok panggung menyusul, membangun ketegangan.

Sumber : Putri Wahyuni/Suarakampus.com
Bunyi bambu “teret… teng… teng…” bersahutan. Gerakan silat mengisi ruang. Dentuman keras tiba-tiba memecah suasana. Seorang pria berjalan tertatih, mundur perlahan di bawah sorot lampu kuning. Dari sinilah konflik bermula, lamaran Giran ditolak.

Sumber : Putri Wahyuni/Suarakampus.com
“Setelah menimbang lamaran Giran, ia tidak bisa diterima. Lebih baik disegerakan jawabannya,” ucap tokoh uda dengan nada tegas.
“Kita sama-sama tahu mereka saling mencinta. Ini perlu dipertimbangkan,” sahut yang lain.
“Tidak perlu!” balasnya keras.

Sumber : Putri Wahyuni/Suarakampus.com
Sani berdiri di tengah pusaran perdebatan. Ia menghempaskan kursi, lalu menari lasak di atasnya dengan gerakannya liar, emosional dan penuh perlawanan.
“Apa guna limpapeh jika tak bisa menentukan takdir sendiri?” serunya lantang.
Sorot lampu memusat. Kursi dilempar. Para pemain berputar cepat.
“Aku akan menentukan takdirku sendiri!” teriak Sani berulang kali.
Lampu mendadak padam.
Adegan berikutnya dibuka dengan kabar yang menyulut bara. Seorang lelaki gagap berlari memberi tahu bahwa Giran dan Sani masih menjalin cinta secara diam-diam. Amarah sang uda memuncak.
“Begitulah perempuan jika sudah dibutakan cinta!” teriaknya.
Panggung menghitam. Sani berjalan perlahan, lirih, rapuh. Ia tersungkur. Dari sudut panggung, Giran muncul dengan celana galembong hitam. Ia mengitari Sani pelan, menatapnya tajam.

Sumber : Putri Wahyuni/Suarakampus.com
Keduanya menari sembari menarik kain putih simbol ikatan cinta yang rapuh.
“Mengapa tidak menyelesaikan dengan Uda Malintang?” tanya Sani.
“Malintang sudah lama menaruh dendam padaku,” jawab Giran.
Tiba-tiba Giran menarik kain itu kuat-kuat. Sani terjatuh.
“Tolong katakan kita akan selalu bersama,” pinta Sani dengan suara pecah.
Namun Giran mundur. “Tiada tempat untuk cinta kita,” ujarnya lirih sebelum melangkah pergi.
Klimaks terjadi ketika lampu merah menyala menyala-nyala, menyelimuti panggung seperti bara. Seorang laki-laki menghentakkan kursi lima kali“cetak! cetak! cetak! cetak! cetak!” lalu memukulnya brutal sembari berteriak. Dentuman menggema.

Sumber : Putri Wahyuni/Suarakampus.com
Sani dan Giran berdiri di tengah panggung. Para lelaki mengitari mereka semakin cepat, semakin sempit, seperti lingkaran adat yang menjerat. Gerak mereka menekan, memaksa, menghimpit..
Dalam sekejap, seluruh aktor terhempas bersamaan. Bunyi keras menggelegar. Lampu padam total.
Gelap.
Teater Giran Sani berakhir pada ledakan emosi yang menyisakan sunyi panjang. Penonton kemudian bertepuk tangan menyaksikan bagaimana cinta, dendam, dan adat saling berkelindan, serta bagaimana seorang perempuan berjuang menentukan nasibnya, meski harus berhadapan dengan dunia yang mengekangnya.

Sutradara dan Tim Teater Salapan Padang Pascapementasan. Sumber : Zahra Mustika/Suarakampus.com
Karya ini ditampilkan oleh kelompok Teater Salapan Padang dengan mengangkat tragedi cinta yang terhalang dendam dan benturan adat. Sebuah kisah tentang perempuan yang berdiri di persimpangan antara menjaga marwah keluarga dan mempertahankan hak menentukan takdirnya sendiri.
Wartawan : Putri Wahyuni (Mg)