Di Rantau, Sepi Punya Suara

Sumber: Najwalin Syofura.

Oleh : Haida Putri Lubis
(Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam)

Di rantau orang
Aku akhirnya tahu
Ternyata sepi bukan tentang
Tidak adanya manusia.

Sepi adalah ketika
Ribuan wajah berlalu di depan mata
Namun tak satu pun
Yang benar-benar tahu
Bagaimana caranya menenangkan hatimu.

Di sini
Aku punya kamar
Punya tempat tidur
Punya atap untuk berteduh
Tetapi tak punya seseorang
Yang akan mengetuk pintu dan berkata
“Sudah makan?”

Malam menjadi begitu panjang
Ketika tak ada suara ibu dari dapur,
Tak ada langkah ayah di ruang tengah,
Tak ada suara rumah
Yang dulu sering kuanggap biasa
Dan baru kusadari nilainya
Setelah aku jauh darinya.

Kadang aku sengaja membuka Leptop
Bukan karena ingin menonton atau membuat tugas
Melainkan karena takut
Mendengar suara sunyi dari kamarku sendiri.

Aku biarkan lampu tetap menyala
Meski mata sudah terpejam
Sebab dalam gelap
Rindu terasa jauh lebih berani.

Di luar, kota masih hidup.
Motor berlalu-lalang
Orang-orang tertawa
Warung-warung masih ramai
Lampu jalan masih menyala.

Tapi anehnya,
Di tengah seramai itu
Aku justru merasa
Seperti manusia paling sendirian di dunia.

Ada begitu banyak hal
Yang ingin kuceritakan hari ini.

Tentang lelahku.
Tentang orang-orang yang menyakitiku.
Tentang hari ketika aku hampir menyerah.
Tentang betapa kerasnya hidup.

Namun ketika ponsel kugenggam,
Nama-nama di dalamnya
Terasa begitu jauh.

Sebab aku tahu
Dirumah pun
Mereka sedang berjuang
Dengan hidup mereka sendiri.

Maka aku memilih diam.

Dan begitulah anak rantau
Belajar menyembunyikan tangis
Di balik kalimat,
“Aku baik-baik saja.”

Padahal ada malam
Ketika aku duduk sendirian ditepi ranjang,
Memandangi foto keluarga,
Lalu bertanya kepada diri sendiri:

“Kalau aku jatuh hari ini,
Siapa yang akan datang memelukku?”

Tak ada jawaban.

Hanya suara kipas
Yang berputar pelan
Menemani napas
Yang sesak oleh rindu.

Di rantau
Aku belajar bahwa pulang
Bukan sekadar perjalanan menuju rumah.

Pulang adalah
Memiliki seseorang
Yang membuatmu tak perlu berpura-pura kuat.

Dan mungkin itu sebabnya
Setiap kali mendengar suara ibu
aku buru-buru mengakhiri percakapan.

Bukan karena tak ingin bicara,
Tetapi karena aku takut
Suaraku pecah
Dan mereka tahu
Bahwa anak yang mereka kira baik-baik saja
Ternyata sedang menangis diam-diam.

Aku rindu rumah.

Bukan hanya pada dindingnya
Bukan hanya pada halaman dan pintunya
Tetapi pada perasaan
Bahwa di sana
Aku tidak perlu menjadi siapa-siapa.

Aku cukup menjadi anak.

Sedangkan di rantau
Aku harus menjadi kuat
Bahkan ketika hatiku sedang ingin pulang.

Jadi, jika suatu malam
Kau melihat seorang anak rantau
Duduk sendirian di sudut kamar,
Jangan buru-buru mengira ia sedang baik-baik saja.

Mungkin ia sedang menahan air mata
Agar tidak terdengar oleh siapa pun.

Atau mungkin
Ia hanya sedang berharap
Ada seseorang yang tiba-tiba membuka pintu
dan berkata,

“Sudah cukup berjuang hari ini.
Mari pulang.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Ketika Bertahan Tak Lagi Berarti

Next Post

Hari yang Melelahkan

Related Posts

Ibunda

Oleh: Indah Yulfia (Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang) Gelora rindu inginku sampaiBunda baik-baik saja bukan?Ada cerita hari ini?Rasanya…
Selengkapnya