Oleh: Haida Putri Lubis
(Mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam)
Aku tidak tahu kapan semuanya bermula
Kapan namamu mulai menetap
Lebih lama dari yang seharusnya
Di dalam pikiranku.
Yang kutahu
Setiap kali aku melihatmu
Ada sesuatu di dadaku
Yang diam-diam retak
Antara harapan dan kesadaran
Bahwa aku mungkin tak pernah
Menjadi apa-apa di hidupmu.
Aku mencintaimu
Dengan cara yang bahkan tak berani kusebut cinta.
Karena aku tahu
Perasaan ini hanya berjalan sendirian
Tanpa pernah menemukan langkahmu di sampingnya.
Sering kali aku bertanya pada diriku sendiri
Mengapa hati ini memilihmu?
Mengapa dari sekian banyak manusia di dunia
Justru namamulah
Yang terus pulang ke pikiranku.
Padahal aku tahu
Kau mungkin tak pernah menunggu aku
Tak pernah berharap aku datang
Bahkan mungkin
Tak pernah menyadari keberadaanku.
Mencintaimu terasa seperti
Membangun rumah di dalam mimpi
Indah saat terbayang
Hangat saat dirasakan
Namun hancur seketika
Saat aku terbangun dari kenyataan.
Dan di situlah aku berdiri
Dengan perasaan yang tak sempat kau kenal
Dengan rindu yang tak pernah kau dengar
Dengan cinta yang terlalu sunyi
Untuk sampai kepadamu.
Jika suatu hari kau tahu
Bahwa pernah ada seseorang
Yang mencintaimu sedalam ini
Ketahuilah…
Orang itu adalah aku
Yang memilih diam
Agar kau tetap bahagia
Meski kebahagiaan itu
Tidak pernah melibatkan diriku.
Karena pada akhirnya
Aku hanyalah seseorang
Yang mencintaimu sepenuh hati
Di dunia yang hanya ada
Di dalam mimpi.