Suarakampus.com – Kabut asap yang kian menebal di Kota Padang menimbulkan kekhawatiran mahasiswa Universitas Islam Negeri Imam Bonjol (UIN IB) Padang terhadap kesehatan dan kenyamanan selama mengikuti perkuliahan tatap muka, Jumat (23/10).
Berdasarkan unggahan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Barat, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) PM2,5 di Stasiun Padang Pasir mencapai 157 pada Jumat pukul 08.00 WIB.
“Angka tersebut masuk kategori tidak sehat, masyarakat dihimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama bagi kelompok rentan,” demikian keterangan dalam poster yang diunggah melalui akun Instagram @dlh_sumbar.
Kondisi tersebut turut dirasakan Yazid Maulana, Mahasiswa Ilmu Hadis (ILHA). Yazid mengaku, kabut asap mengganggu kenyamanannya karena udara terasa tidak sehat untuk dihirup. Ia juga menyebut sejumlah mahasiswa mengalami gangguan kesehatan.
“Udara yang dihirup tentu tidak sehat, bahkan beberapa mahasiswa juga sakit sebab kabut ini,” katanya.
Yazid mengatakan, dirinya mulai mengalami pilek dan batuk sejak awal kabut asap muncul. Meski belum mengalami sesak napas, ia tetap mewaspadai dampak paparan asap terhadap kesehatannya.
Keluhan kesehatan tersebut membuat Yazid turut mengkhawatirkan pelaksanaan perkuliahan tatap muka di tengah kondisi udara yang kurang baik. Menurutnya, mahasiswa tetap berisiko terpapar asap meskipun kegiatan belajar berlangsung di dalam ruangan.
“Untuk menuju kampus tentu kita akan beraktivitas di luar ruangan,” jelasnya.
“Kampus perlu mempertimbangkan perkuliahan daring sementara di tengah kondisi kabut asap. Kesehatan dan keselamatan mahasiswa harus menjadi prioritas tanpa mengabaikan proses akademik,” tutupnya.
Kekhawatiran serupa disampaikan Nina Lailatul Husna. Ia menilai, kabut asap yang semakin tebal di sekitar kampus berpotensi mengganggu kesehatan mahasiswa, terutama sistem pernapasan.
“Paparan asap dapat menimbulkan keluhan seperti batuk, sesak napas, sakit tenggorokan, dan mata perih,” ucapnya.
Selain risiko kesehatan, Nina juga mengkhawatirkan dampak kabut asap terhadap kenyamanan dan konsentrasi mahasiswa selama mengikuti perkuliahan.
“Selain itu, kabut asap juga bisa membuat saya kurang nyaman dan sulit berkonsentrasi saat belajar, sebab mata perih,” ujarnya.
Baginya, perlindungan kesehatan mahasiswa selama perkuliahan tatap muka saat ini belum sepenuhnya memadai.
Atas kondisi tersebut, Nina mendorong pihak kampus mengevaluasi pelaksanaan perkuliahan tatap muka selama kabut asap masih berlangsung.
“Semoga kampus mempertimbangkan pembelajaran daring sementara,” pungkasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, Wakil Rektor I UIN IB Padang belum memberikan keterangan terkait kebijakan perkuliahan di tengah kondisi kabut asap yang kian menebal. (rar)
Wartawan : Redaksi