Oleh: Mutiara Febri Nursa (Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang)
Qodrina Nilam Sari, gadis kelahiran Aur Gading, Sijunjung, 21 Juni 2004, adalah anak terakhir dari empat bersaudara, putri dari pasangan Rusdi dan Roza Nofiarti. Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN 21 Limo Koto, kemudian berlanjut ke SMPN 2 Sijunjung, dan SMAN 7 Sijunjung sebelum akhirnya menapaki jenjang perkuliahan S-1 Pendidikan Musik di Universitas Negeri Padang. Sejak kecil, ia telah menunjukkan ketertarikan pada dunia musik. Minatnya pada musik bermula saat ia duduk di kelas 5 SD ketika pertama kali belajar gitar. Lagu Minang menjadi lagu pertama ia mainkan.
Sepulang sekolah, ia selalu menyempatkan diri berlatih memainkan gitar agar semakin mahir memainkan alat tersebut. Ketertarikannya berkembang ke instrument lain, yakni keyboard. Walau tidak memiliki keyboard sendiri, ia tak menjadikan hal itu sebagai penghalang. Ia rutin pergi ke rumah temannya demi belajar dan mengasah kemampuan. Namun, perjalanan tidak selalu mulus. Ketika SMP, rasa percaya dirinya merosot drastis.
Pada semesester satu kelas tujuh, ia sempat dijanjikan ikut kompetisi FLS2N, tetapi sehari sebelum lombaia tidak jadi diikutsertakan. Kekecewaan itu membekas, namun tidak menghentikannya untuk terus berusaha. Ia terus mencari ruang untuk mengembangkan bakatnya. Selain musik, ia juga aktif di olahraga, khususnya bola voli dan bola basket —dua bidang yang memperkuat karakter disiplin dan daya juangnya.
Memasuki masa SMA, ia tidak pernah berhenti untuk terus berambisi memperbaiki dirinya. Ia selalu berusaha mengupgrade dirinya hingga berhasil meraih beberapa impian kecilnya. Ia memberanikan diri maju dan akhirnya terpilih sebagai Ketua OSIS. Proses pencalonannya tidak mudah, karena ada pro dan kontra yang terjadi saat itu. Namun, ia tidak pernah patah semangat. Ia selalu meyakinkan orang-orang di sekitarnya dengan kemampuan yang dimilikinya.
Tekadnya juga membuahkan prestasi saat kelas sepuluh ia mewakili sekolah dalam cabang gitar solo FLS2N dan meraih juara 2. Pencapaian ini menjadi bukti bahwa kerja kerasnya tidak sia-sia. Namun, ketika kelas duabelas kebingungan menghantuinya. Ia mulai memikirkan masa depannya dan akan menjadi apa dirinya kelak. Ia masuk kategori siswa eligible, tetapi belum menemukan jurusan yang tepat. Ia tertarik menjadi motivator dan mengusulkan jurusan Ilmu Komunikasi, namun ditolak guru BK karena dianggap memiliki peluang kerja yang minim.
Kebingungannya semakin bertambah: jurusan apakah yang lebih tepat untuk dirinya? Di sisi lain, meski menyukai seni, ia merasa tidak cocok menjadi seniman. Pada akhirnya, karena waktu pendaftaran semakin mepet, ia memilih Prodi Pendidikan Musik sebagai jalan tengah yang dianggap paling realistis.
Setelah dinyatakan lulus SNMPTN, muncul masalah baru. Pengumuman UKT membuatnya kembali ragu untuk melanjutkan kuliah karena kondisi ekonomi keluarga saat itu tidak stabil. Meski begitu, orang tuanya kembali meyakinkannya agar melanjutkan pendidikan. Keyakinan itu menjadi pemicu semangatnya untuk kembali menggapai impiannya. Ia menjadikan pilihan prodi tersebut sebagai batu loncatan untuk meraih cita-citanya.
Awal masa kuliah tidak mudah. Ia menutup diri dan merasa takut tidak diterima oleh orang-orang di lingkungannya. Pada semester pertama, ia hanya datang ke kampus lalu pulang, dan menghindari pergaulan. Namun, seiring berjalannya waktu, ia terus mencoba memperbaiki dirinya dan menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Semester dua menjadu titik terendah dalam hidupnya. Ia merasa bahwa perkuliahan ini tidak ada artinya, karena dosen yang jarang hadir membuatnya berpikir tidak ada ilmu yang bisa ia bawa untuk diterapkan di masa depan. Ditambah lagi, masalah ekonomi keluarga dan lingkungan pertemanan juga membuatnya merasa terpuruk. Ia merasa tidak ada satupun orang yang ada di sisinya saat masa-masa sulit. Ia merasa sendirian.
Dari kegundahan itu, lahirlah lagu berjudul “Senandika” —yang berarti suara hati. Namun lagu itu belum ia rilis karena masih mencari nuansa musik yang tepat. Di tengah kesulitan, ia sempat berpikir berhenti kuliah karena faktor ekonomi. Namun sekali lagi, dukungan orang tua menguatkannya “Kalau rezeki itu pasti ada, selagi niatnya baik,” ujar mereka. Kalimat itu menjadi titik balik baginya untuk terus maju. Hal itu menjadi pemicu semangatnya untuk kembali menggapai impiannya.
Ia kemudian belajar berdamai dengan keadaan dan menata ulang cara berpikirnya dan menyadari bahwa rasa cemas berlebihan hanya melemahkan diri. Perlahan ia bangki kembali. Usahanya akhirnya membuahkan hasil. Pada akhir semester empat, ia berhasil meraih IP 4.00—hadiah kecil yang ia persembahkan untuk orang tuanya yang terus berjuang mengusahakan pendidikannya. Sejak saat itu, ia merasa hidupnya jauh lebih ringan. Ia mulai memahami bahwa setiap langkah yang diniatkan untuk membahagiakan orang tua, selalu menemukan jalannya.
Kini, ia juga sudah bisa berdamai dengan dirinya sendiri dan tidak lagi menyalahkan keadaan yang terjadi dalam hidupnya. Ia percaya bahwa setiap masalah yang datang pasti memiliki solusi, baik itu masalah kecil maupun besar. Ia percaya bahwa setiap masalah, besar maupun kecil, adalah guru yang membentuk diri menjadi lebih baik lagi. Baginya, kegigihan dan keyakinan adalah modal utama dalam perjalanan panjang mencapai mimpi. Jangan pernah menyerah karena setiap orang punya jalannya masing-masing, dan setiap rintangan adalah bagian dari proses menuju diri yang lebih baik.