Oleh : Jihan Dwi Rahayu
(Mahasiswa Jurusan Ekonomi Syariah)
Aku adalah jam di ruang tunggu
Setia berdetak untukmu
Namun langkahmu selalu berlalu
Tanpa pernah menoleh waktu.
Aku menjadi lampu di persimpangan
Menjagamu dari gelap
Sementara kau memilih jalan lain
Tanpa menoleh cahaya yang menyala.
Aku hujan di atas atapmu
Kau dengar jatuhnya
Namun jendela itu tetap tertutup
Meski dingin mengetuk pelan.
Yang membedakan kita
Hanyalah arah
Aku menunggu
Kau melangkah pergi.
Kini jam itu berdetak sendiri
Lampu itu meredup perlahan
Dan hujan memilih jatuh di tanah
Yang benar-benar menantinya.