Dewasa Bukan Soal Paling Kuat Bertahan, Tapi Paling Jujur Mengakui Lelah

Ilustrasi seorang mahasiswa duduk di depan meja kerja dengan tumpukan buku dan tugas, menggambarkan kelelahan mental dalam proses pendewasaan dan pertumbuhan diri. Sumber : Najwalin Syofura.

Oleh : Muhammad Rizki
(Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam)

Pertumbuhan adalah sesuatu yang sulit dicegah. Ia datang dari berbagai arah dan bentuk, sering kali tanpa permisi. Pertumbuhan bukan sekadar perkara menjadi dewasa, melainkan juga tentang pengalaman, kesadaran, dan hasrat untuk tetap hidup. Dari semua perjalanan itu, lahirlah satu kata yang kerap disalahpahami: berkembang.

Manusia tumbuh dan berkembang secara bersamaan. Mereka melewati perasaan yang tidak semua orang mampu atau berani rasakan. Dalam proses itu, saya berdiri dan tumbuh menjadi pribadi yang cenderung memahami perasaan orang lain. Tidak sedikit dari mereka yang mengenal saya berkata, “Kamu terlalu over terhadap omongan dan perasaan seseorang.” Bagi mereka yang menilai secara instan—tanpa sempat mencium aroma dapur yang penuh bumbu—saya dianggap belum cukup dewasa.

Namun, tidak demikian bagi mereka yang benar-benar membaca setiap kalimat yang saya tuangkan. Justru dari merekalah saya mendapat cermin untuk melihat diri sendiri. “Kamu memang berada di bagian yang tidak seharusnya, tetapi tidak banyak orang yang bisa memanfaatkan posisi itu, dan kamu bisa.” Kalimat singkat itu menjadi bahan bakar baru. Tumbuh dan berkembang memang tak bisa dipisahkan; bahkan jika terpisah, keduanya akan bertemu kembali di ujung jalan bernama kesadaran.

Di titik tertentu, lelah menjadi perhentian yang tak terelakkan. Lelah di persimpangan jalan bukan pilihan yang baik, tetapi juga bukan aib. Banyak rintangan yang jauh lebih berat telah kita lalui, namun apakah kelelahan berarti berhenti? Berhenti sejenak untuk menghirup dan menghela udara segar adalah wajar dalam sebuah perjuangan. Tetapi berhenti sepenuhnya—menyerah karena lelah—sering kali berujung pada jalan yang retak, mudah runtuh, dan akhirnya sia-sia.

Kehadiran seseorang di tengah perjalanan panjang juga kerap disalahartikan. Padahal, ia bukan gangguan. Jika kita benar-benar menyerap makna pertemuan itu, kita justru bisa dibimbing menuju pemahaman yang lebih kokoh. Berani berelasi, berani membuat simpul-simpul jalanan, menjadikan rasa lelah hanya angan kecil yang tertutup oleh semangat yang tumbuh perlahan namun pasti.

Dewasa, pada akhirnya, bukan soal siapa yang paling kuat bertahan, melainkan siapa yang paling jujur mengakui lelah—tanpa menjadikannya alasan untuk berhenti. Retak tidak selalu berarti rusak. Dalam banyak hal, retak justru menjadi tanda bahwa sesuatu pernah dipaksa bertahan, lalu belajar menyesuaikan diri.

Pertumbuhan, berkembang, lelah, dan retak—semuanya adalah kunci dalam proses mencari dan mengenal diri. Mengenali diri berarti berani membaca makna di setiap siratan kata, di setiap simpul jalanan yang pernah dilewati. Mungkin yang terpenting bukan seberapa jauh kita melangkah, tetapi seberapa sadar kita memahami langkah itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Elsa dan Keempat Pionnya : Misi Untuk Newton

Next Post

“Kuliah Itu Scam?”: Ketika Media Sosial Menguji Makna Pendidikan Tinggi

Related Posts