Ruang Digital Butuh Regulasi dan Tanggung Jawab

Dokumentasi peserta saat mengikuti acara kuliah dosen tamu, Selasa (3/3). Sumber : Ghalib Hanif

Suarakampus.com– Regulasi digital dinilai memiliki peran penting dalam aktivitas mahasiswa, mulai dari perlindungan data hingga etika bermedia sosial. Pandangan tersebut disampaikan mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) UIN Imam Bonjol Padang usai mengikuti kuliah dosen tamu di Gedung J Kampus 3 UIN IB Sungai Bangek, Selasa (03/03).

Mahasiswa peserta, Akbar Ramadhan menyebut pembahasan mengenai regulasi dan inovasi digital harus berimbang. “Perkembangan teknologi tidak bisa dilepaskan dari aturan yang mengaturnya,” sebutnya.

Menurutnya, aturan digital tidak seharusnya dipandang sebagai pembatas kreativitas. “Justru aturan tersebut menjaga keamanan, dan privasi,” katanya.

Selain itu, Akbar menilai inovasi digital mahasiswa sudah cukup baik, seperti keterlibatan dalam bisnis online dan pembuatan konten kreatif. “Namun masih ada kendala seperti keterbatasan fasilitas,” katanya.

Ia menyebut ruang digital bukanlah tempat yang sepenuhnya bebas tanpa aturan. “Setiap tindakan di dunia digital perlu dipikirkan dengan bijak karena bisa berdampak pada diri sendiri maupun orang lain,” imbuhnya.

Akbar berharap regulasi digital dapat terus berkembang menyesuaikan perubahan zaman. “Mahasiswa juga diharapkan mampu memanfaatkan teknologi secara lebih produktif, inovatif, dan tetap bertanggung jawab,” harapnya.

Senada dengan itu, Mahasiswi KPI, Nabila Remedela juga menyampaikan kesan positif terhadap kegiatan tersebut. “ Regulasi sangat penting untuk mengontrol inovasi,” ujarnya.

Ia menegaskan regulasi berdampak dalam kehidupan mahasiswa, mulai dari privasi data hingga hak cipta. “Tanpa kita sadari setiap hari kita terkena dampak karena setiap hari kita menggunakan media,” jelasnya.

Nabila mengatakan inovasi digital mahasiswa cukup berkembang, namun masih terkendala fasilitas dan keterampilan. “Kurangnya fasilitas seperti tripod, kamera, hp, dan paling krusial adalah skill yang tidak memadai,” katanya.

Setelah mengikuti kegiatan, ia mengaku mengalami perubahan cara pandang. “Awalnya regulasi dianggap membatasi, namun ternyata regulasi berguna untuk melindungi data kita,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Umum KPI, Ryan Maulana Putra, menilai kegiatan tersebut menjadi ruang dialog antara regulator dan mahasiswa. “Kampus adalah tempat lahirnya calon praktisi media, jadi penting ada pemahaman langsung tentang arah dan tantangan penyiaran nasional,” ujarnya.

Ia menegaskan regulasi bukan untuk membatasi kreativitas, melainkan memastikan inovasi berjalan dengan tanggung jawab. “Keseimbangan ini penting agar kebebasan berekspresi tetap sejalan dengan etika dan kepentingan publik,” ungkapnya.

Menurutnya, regulasi saat ini sudah cukup memberi ruang, namun tetap perlu penyesuaian mengikuti perkembangan teknologi. “Negara harus adaptif, tetapi generasi muda juga harus kreatif dalam koridor aturan yang ada,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya pemahaman hukum dan etika bagi calon praktisi media. “Tidak cukup hanya pandai produksi konten, tapi juga wajib memahami aspek hukum dan etika,”  tegasnya.

Ryan menilai magang di luar daerah sebagai langkah baik. “Magang di luar daerah membuka perspektif baru, memperluas jejaring, dan melatih adaptasi,” ujarnya.

Ia berharap mahasiswa KPI menjadi generasi yang kreatif dan mampu menghadirkan konten yang mencerahkan. “Bukan hanya menarik secara visual tetapi juga bermakna secara nilai,” pungkasnya. (Fau)

Wartawan : Nur Hanifah (Mg), Muhammad Rezki (Mg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Tumbuh Setiap Hari

Next Post

Konflik Pengelolaan Sumber Daya Alam Sumbar di Sorot Dalam Diskusi LBH

Related Posts