Oleh : Ergina Kholifah Aljanah
(Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang)
Selembar kertas putih berisikan nada
Berirama setenang malam kala bulan menyibak angkuhnya sunyi
Lalu ketika bulan itu sirna, ia menjelma menjadi mentari
Menyuguhkan hangat di sertai cahaya menebas gulita
Rotasinya tak jauh berbeda
Jika beruntung, mungkin esok akan bertegur sapa
Dengan titik-titik bening air mata bahagia dari langit…
Atau bahkan ada warna warna bidadari yang menyelinap dibalik sudut bibir sang awan
Temui saya esok lusa
Ceritakan musim apa yang paling disuka
Kabarkan angin mana yang paling tenang
Atau biar ku beri tau cerita tentang bagaimana kumbang jatuh cinta pada serbuk bunga
Dan bila senja kembali menumpahkan jingganya di ufuk semesta
akan ku simpan setiap desir waktu dalam lipatan doa-doa sederhana
Tentang dedaunan yang tetap menari meski diterpa lelahnya angin
Dan tentang laut yang tak pernah bosan memeluk bibir pantai dengan sabar
Barangkali alam memang diciptakan untuk mengajari manusia
Bahwa tenang tidak selalu berarti tanpa luka
Jika nanti langkah kita dipertemukan lagi di persimpangan musim
izinkan aku membawa segenggam kisah yang belum sempat selesai
Tentang embun yang setia lahir sebelum pagi membuka matanya
dan tentang langit yang diam-diam menyimpan rindu pada hujan
Sebab pada akhirnya, seluruh goresan alam hanyalah cara semesta berbicara
Agar manusia belajar mencintai tanpa harus banyak suara.