Oleh : Fauziah Maharatih Wahyuni
(Mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam)
Aneh rasanya menyusuri kembali jejak kata kita
senyumku dulu luruh
hanya karena namamu hadir di layar.
dari canda yang kau ucapkan seadanya,
aku mengerti
bahagia tak pernah serumit yang kukira.
Kini saat kuingat kembali
kisah itu terasa timpang
hadirmu samar
seperti bayang yang enggan menetap.
Sayangnya
semesta memilih perpisahan.
buku kita berhenti ditulis
ditutup pelan
lalu disimpan selamanya.
Kepergianmu
meninggalkan lubang yang tak terisi.
seribu orang datang
tak semeriah hadirmu
seribu orang pergi
tak semenyakitkan kepergianmu.
Hidup terus berjalan
namun kau tetap porosnya.
kau kepingan yang hilang
tak tergantikan.
Dan aku belajar
hidup bukan soal cepat sampai
melainkan memahami
setiap langkah, jatuh, dan luka.
Menjadi kuat
bukan berarti tak menangis
melainkan berani menerima
dan perlahan merelakan.