Suarakampus.com- Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Indonesia menyoroti keterputusan antara ilmu dan praktik di birokrasi saat Kuliah Umum dan Pelepasan KKN UIN Imam Bonjol Padang di Gedung J Kampus III, Senin (15/06). Menurutnya, nilai keilmuan dan integritas sering tidak tercermin ketika lulusan kampus memegang jabatan publik.
Muhaimin Iskandar mengungkapkan, perguruan tinggi tidak boleh hanya berfungsi menghasilkan lulusan, tetapi juga harus berkontribusi dalam menjawab kebutuhan masyarakat. “Kampus harus mampu menjadi rujukan dalam berbagai pengambilan keputusan, baik di tingkat pemerintah maupun masyarakat,” ungkapnya.
Menko Pemberdayaan Masyarakat itu menjelaskan, hasil penelitian dan kajian akademik seharusnya menjadi referensi dalam penyusunan kebijakan publik. “Jangan sampai berbagai persoalan bangsa tidak memiliki rujukan yang kuat dari kampus sebagai pusat keilmuan,” jelasnya.
Pejabat negara tersebut mengapresiasi transformasi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) yang dinilai mampu mempertemukan ilmu agama dan ilmu pengetahuan. “Perubahan ini penting untuk menghapus sekat antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan sehingga keduanya dapat berkembang secara beriringan,” sebutnya.
Cak Imin menilai, keterpisahan nilai akademik dari praktik kehidupan menjadi salah satu tantangan pendidikan saat ini. “Banyak ilmu, nilai, dan integritas yang dipelajari di kampus tidak lagi tercermin ketika seseorang memegang jabatan dan mengambil keputusan,” tuturnya.
Menteri tersebut menegaskan Indonesia membutuhkan lebih banyak pemimpin yang mampu mengintegrasikan pengetahuan, moralitas, dan tanggung jawab sosial. “Bangsa ini memerlukan pemimpin yang tetap berpegang pada nilai-nilai keilmuan dan integritas saat mengemban amanah,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Muhaimin juga menyoroti peran perguruan tinggi Islam yang selama ini menjadi sarana mobilitas sosial bagi masyarakat. “Banyak tokoh bangsa lahir dari perguruan tinggi Islam dan berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan,” paparnya.
Ia menambahkan, pemerintah tengah mendorong paradigma pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan dan pemberdayaan masyarakat. “Setiap program pembangunan harus memiliki dampak nyata terhadap peningkatan kualitas hidup rakyat,” tambahnya.
Menutup kuliah umum, Muhaimin berharap peserta KKN memanfaatkan pengabdian sebagai ruang belajar sekaligus latihan kepemimpinan. “Ini adalah laboratorium kepemimpinan dan pengabdian yang membentuk kemampuan mahasiswa,” pungkasnya. (Fau)
Wartawan : Zahra Mustika