Oleh: Ergina Kholifah Aljanah
(Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam)
Aku kenalkan seorang gadis kecil yang tinggal sangat dekat denganku. Lebih dekat dari keluarga, teman, bahkan lebih dekat dari nadiku sendiri.
Namanya Merry.
Kami sudah bersama bahkan sejak sebelum aku mengenal dunia. Saat aku masih terbungkus hangat dalam perut ibu, saat aku belum mampu membuka mata atau mengucapkan satu kata pun, Merry sudah ada di sana. Sejak saat itu ia tak pernah pergi.
Kalau kalian bertanya seperti apa rupa Merry, aku rasa aku tak akan mampu menjelaskannya dengan sempurna. Bagiku, Merry terlihat seperti seorang gadis kecil dengan pipi bulat dan mata yang selalu berbinar. Rambutnya sering berantakan karena terlalu sibuk berlarian ke sana kemari. Ia juga hampir tidak pernah diam. Mulut mungilnya seolah memiliki persediaan kata yang tidak akan habis meski digunakan sepanjang hari.
Setiap pagi, bahkan sebelum aku benar-benar sadar dari tidur, suara Merry sudah terdengar lebih dulu.
“Ayo bangun!”
“Eh, lihat awan di luar jendela!”
“Hari ini kita harus melakukan sesuatu yang menyenangkan!
Dan sebelum aku sempat menjawab, ia sudah melompat ke topik lain.
Kadang-kadang aku ingin menyuruhnya diam selama lima menit saja. Benar-benar lima menit. Namun itu hampir mustahil dilakukan. Merry selalu punya sesuatu untuk dikatakan. Ia ingin mencoba hal baru, ingin pergi ke tempat baru, ingin bertanya tentang banyak hal yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehku.
“Apa menurutmu kupu-kupu punya mimpi?”
“Kenapa hujan terdengar sedih?”
“Kalau kita tersenyum pada orang asing, apakah harinya akan menjadi lebih baik?”
Pertanyaan-pertanyaannya sering kali muncul begitu saja tanpa peringatan. Aneh, tidak masuk akal, dan terkadang sangat mengganggu. Namun entah kenapa aku selalu mendengarkannya.
Selain cerewet, Merry juga sangat ceroboh. Ia sering berlari terlalu cepat hingga tersandung oleh hal-hal yang tidak terlihat. Ia mudah tertarik pada sesuatu yang berkilau, mudah terpukau oleh hal-hal sederhana, dan sering mempercayai orang terlalu cepat. Berkali-kali aku harus menarik tangannya agar ia tidak sembarangan mengikuti rasa penasarannya.
Meski begitu, aku tidak pernah benar-benar marah padanya.
Bagaimana mungkin aku marah pada seseorang yang begitu polos?
Merry melihat dunia dengan cara yang berbeda. Saat orang lain sibuk mencari alasan untuk curiga, Merry justru sibuk mencari alasan untuk percaya. Saat orang lain memilih menjauh, Merry sering kali ingin mendekat. Ia selalu berusaha menemukan kebaikan, bahkan di tempat-tempat yang tampaknya sudah kehabisan cahaya.
Mungkin itulah yang paling kusukai darinya.
Ia mengingatkanku bahwa dunia tidak selalu harus dilihat dengan ketakutan.
Kadang aku suka mengganggunya. Aku sengaja mengabaikan permintaannya hanya untuk melihat reaksinya. Seperti yang kuduga, ia akan langsung memasang wajah memelas yang sangat lucu.
“Ayolah…”
“Hanya sekali saja.”
Lalu ia akan menatapku dengan mata bulatnya yang penuh harapan sampai aku menyerah.
Dan hampir setiap kali, aku memang menyerah.
Karena meskipun Merry sering mengesalkan, banyak bicara, dan terlalu banyak mau, ia adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Ia selalu berada di sisiku ketika semua orang pergi. Ia tertawa saat aku bahagia dan diam menemaniku saat aku sedih. Ia mengenalku lebih baik daripada siapa pun.
Merry mungkin hanyalah seorang gadis kecil yang cerewet dan ceroboh.
Tetapi bagiku, Merry adalah rumah.
Dan selama ia masih ada di sana, berkicau tanpa henti dengan segala kepolosannya, aku tahu bahwa aku tidak pernah benar-benar sendirian.
Waktu berlalu, dan Merry tumbuh.
Ia tidak lagi gadis kecil yang hanya sibuk bertanya tentang awan, hujan, atau kupu-kupu. Ia mulai memperhatikan hal-hal yang sebelumnya tak pernah menarik perhatiannya. Ia mulai mengenal kehilangan, harapan, dan perasaan-perasaan asing yang membuat pipinya memerah tanpa alasan.
Aku melihat perubahan itu sedikit demi sedikit.
Awalnya ia hanya penasaran.
Kemudian ia mulai menunggu.
Lalu tanpa kusadari, ia jatuh cinta.
Aku masih ingat hari ketika Merry pertama kali menceritakannya padaku. Ia berlari-lari kecil dengan mata berbinar seperti menemukan harta karun.
“Aku menyukainya.”
Kalimat itu membuatku mengernyit.
Merry terlalu muda, terlalu polos, dan terlalu mudah percaya pada orang lain. Aku tahu itu. Karena selama ini akulah yang selalu membersihkan luka-luka kecil akibat kecerobohannya.
Namun Merry tetaplah Merry.
Semakin aku memperingatkannya, semakin ia bersikeras untuk mendekat.
“Aku yakin dia baik.”
“Aku yakin dia berbeda.”
“Aku yakin kali ini tidak akan menyakitkan.”
Dan seperti biasa, aku kalah oleh keyakinannya.
Pria itu akhirnya berhasil memiliki kami.
Untuk sesaat aku berpikir Merry benar. Untuk sesaat aku percaya bahwa mungkin kali ini dunia akan memperlakukannya dengan lembut.
Ternyata aku salah.
Pria itu datang membawa kebahagiaan, tetapi juga membawa luka yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya.
Ia membuat kami tertawa, lalu menangis.
Ia membuat kami merasa berarti, lalu mempertanyakan harga diri sendiri.
Ia datang membawa pelukan, tetapi juga meninggalkan bekas yang sulit hilang.
Dan yang paling membuatku marah adalah Merry tetap ingin bertahan.
Setiap kali aku ingin pergi, Merry akan menarik lenganku.
“Sebentar lagi dia berubah.”
“Sebentar lagi semuanya membaik.”
“Sebentar lagi dia akan mengerti.”
Aku muak mendengar kata “sebentar lagi”.
Karena hari-hari berlalu dan tidak ada yang berubah.
Yang berubah hanyalah luka yang semakin dalam.
Aku dan Merry mulai sering bertengkar.
Untuk pertama kalinya sejak kami bersama, aku benar-benar marah padanya.
“Kau terlalu bodoh!”
“Kau terlalu mudah percaya!”
“Kau tidak pernah belajar!”
Merry hanya diam.
Kadang ia menangis.
Kadang ia memeluk lututnya sendiri dan berbisik pelan.
“Tapi aku mencintainya…”
Dan entah kenapa kalimat itu selalu membuatku semakin kesal.
Aku tidak marah karena ia mencintai seseorang.
Aku marah karena ia terus memilih bertahan pada sesuatu yang menyakitinya.
Hari-hari setelah itu terasa seperti perang yang tidak pernah selesai.
Pertarungan antara aku dan Merry.
Antara logika dan perasaan.
Antara bertahan dan melepaskan.
Antara yang tahu harus pergi dan yang masih berharap untuk tinggal.
Sampai akhirnya kami benar-benar kelelahan.
Pria itu pergi meninggalkan lebih banyak luka daripada jawaban.
Dan aku tertinggal bersama Merry yang tidak lagi terlihat seperti gadis kecil yang ceria.
Matanya redup.
Tawanya jarang terdengar.
Ia masih duduk di tempat yang sama, tetapi seolah kehilangan sebagian dirinya.
Peristiwa itu mengubah banyak hal.
Aku menjadi takut.
Takut mempercayai orang.
Takut membuka diri.
Takut merasakan sesuatu yang menyerupai cinta.
Setiap kali ada seseorang yang mencoba mendekat, aku akan segera mundur.
Sementara Merry hanya duduk diam.
Tidak membantah.
Tidak memaksa.
Tidak meminta apa-apa.
Untuk pertama kalinya, kami sama-sama terluka.
Dan untuk pertama kalinya juga, aku merasa ingin marah pada segalanya.
Pada pria itu.
Pada diriku sendiri.
Pada Merry.
Pada dunia yang membiarkan kami belajar dengan cara yang begitu menyakitkan.
Namun waktu selalu memiliki caranya sendiri untuk menyembuhkan.
Perlahan-lahan aku mulai duduk di samping Merry lagi.
Tanpa kemarahan.
Tanpa tuduhan.
Hanya duduk bersamanya dalam diam.
Aku mulai menyadari bahwa selama ini aku terlalu sibuk menyalahkannya.
Padahal ia juga terluka.
Ia juga menangis.
Ia juga kehilangan sesuatu.
Merry memang ceroboh.
Tetapi ia tidak pernah berniat menyakiti kami.
Ia hanya percaya.
Terlalu percaya.
Dan bukankah itu yang selalu menjadi dirinya sejak awal?
Hari demi hari kami mulai belajar berdamai.
Aku belajar memahami perasaannya.
Dan Merry belajar mendengarkan ketakutanku.
Kami tidak lagi saling memaksa.
Kami tidak lagi saling menyalahkan.
Kami hanya bertumbuh bersama.
Sampai suatu hari seseorang datang.
Tidak dengan cara yang menggemparkan.
Tidak dengan janji-janji besar.
Ia hadir begitu saja.
Sederhana.
Tenang.
Dan anehnya, Merry mulai tersenyum lagi.
Aku melihat pipinya kembali merona.
Aku melihat matanya berbinar seperti dulu.
Aku melihat kupu-kupu kecil berterbangan di sekelilingnya lagi.
Namun kali ini berbeda.
Merry tidak berlari menghampirinya.
Tidak memaksaku membuka pintu.
Tidak merengek agar aku segera mempercayainya.
Ia hanya tersenyum.
Menikmati perasaan itu sebagaimana adanya.
Dan saat itulah aku akhirnya mengerti.
Merry bukan sekadar sahabat kecilku.
Bukan gadis mungil yang selalu berkicau di dalam sana.
Merry adalah hatiku.
Hatiku yang selama ini tumbuh bersamaku.
Hatiku yang pernah terluka.
Hatiku yang pernah tersesat.
Hatiku yang pernah memaksaku bertahan pada sesuatu yang salah.
Namun juga hatiku yang mengajariku bagaimana cara mencintai.
Kini Merry sudah benar-benar menjadi gadis dewasa.
Ia tidak lagi memaksaku mengikuti semua keinginannya.
Ia belajar memahami batas.
Belajar menerima kehilangan.
Belajar bahwa tidak semua perasaan harus dimiliki.
Dan aku pun belajar hal yang sama.
Karena itu kali ini kami tidak terburu-buru memberi nama pada apa yang kami rasakan.
Kami hanya mensyukurinya.
Sebagai salah satu hadiah paling indah yang Tuhan titipkan kepada manusia.
Perasaan yang datang untuk menghangatkan hari-hari, bukan untuk dimiliki.
Perasaan yang cukup dinikmati keberadaannya.
Aku, Merry, dan pria itu berjalan berdampingan sebagai teman.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tidak ada perang di antara kami.
Hanya ketenangan.
Karena akhirnya aku dan Merry pulang ke rumah yang sama.
Ke diri kami sendiri.