Oleh: Haida Putri Lubis
(Mahasiswi Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam)
Barangkali,
Yang paling kejam dari mencintaimu
Bukanlah perpisahan.
Melainkan kenyataan
Bahwa tubuhku masih bernapas,
Sementara separuh jiwaku
Telah lama menetap
Sepasang mata
Yang tak lagi dapat kupandang
Selain melalui kenangan.
Sejak langkahmu menjauh,
Waktu kehilangan arah.
Ia tak lagi menghitung hari,
Hanya berputar
Mengitari jejak-jejakmu,
Seolah enggan percaya
Bahwa kita benar-benar dipisahkan.
Aku tak pernah memanggil namamu.
Bukan sebab cinta telah luruh,
Melainkan karena setiap
Namamu menyentuh bibirku,
Ada ombak yang pecah
Di dalam dada,
Menghantam pantai kesabaran
Hingga tak bersisa.
Maka kupungut hadirmu
Dari selembar foto
Yang mulai kusam
Oleh tatapan dan hujan
Yang diam-diam jatuh
Dari kedua mataku.
Kupandangi matamu bagai peziarah
Yang tak pernah lelah
Menempuh jalan pulang;
Perlahan,
Khusyuk,
Dengan harapan
Yang bahkan tak lagi mengenal kemungkinan.
Sering kali aku berharap
Gambar itu berdenyut.
Agar senyummu
Tak lagi membeku,
Agar matamu
Menoleh kepadaku,
Lalu berkata,
“Aku pun sedang tenggelam
dalam sunyi yang sama.”
Andai dahulu
Aku lebih berani
Melawan jarak
Dan menentang waktu,
Mungkin langit
Tak akan seluas ini,
Mungkin malam
Tak akan sepanjang ini, dan sepi
Tak akan menemukan
Rumah di dalam dadaku.
Namun penyesalan
Selalu datang
Setelah pelukan
Berubah menjadi kenangan,
Dan kenangan
Menjelma jadi hukuman hidup setiap hari.
Kini aku mencintaimu
Dengan cara
Yang paling sunyi.
Menyebut namamu
Dalam doa
Hingga langit hafal
Setiap desir rinduku.
Menatap wajahmu
Dalam foto
Hingga bayangmu
Lebih nyata
Dari dunia kutinggali.
Lalu membiarkan hati ini retak
Sedikit demi sedikit,
Tanpa suara,
Tanpa saksi.
Sebab yang paling menyakitkan
Nukanlah jarak
Melainkan kenyataan
Bahwa orang yang paling ingin kupeluk
Masih menghirup langit
Yang sama denganku,
Namun takdir
Menjadikannya
sedekat doa,
Dan sejauh
Keabadian.