Siti Ulami
Mahasiswa program studi Komunikasi Penyiaran Islam, UIN Imam Bonjol Padang
Aul, mahasiswa semester lima, sedang libur semester berdasarkan kalender kampus. Tapi di hidupnya, kata libur seolah tidak pernah datang dan tak benar-benar ada.
Pagi itu, jam dinding menunjukkan pukul 08.30. Gadis ini sudah bangun subuh sekali. Ia memerhatikan bagaimana kondisi ayahnya yang terbaring lemah di kamar dengan napasnya yang tertatih. Dalam ruangan itu, aroma obat yang menyatu dengan minyak kayu putih sangat menyengat.
“Ul…” suara ayahnya pelan.
“Iyo, Yah,” Aul mendekat.
“Ado yang sakit?”
Ayah menggeleng pelan. “Jangan telat kerja.”
Aul tersenyum tipis. Senyum yang dipaksakan.
Ibunya sudah rapi dengan seragam kerja.
“Uangnya di laci, Ul,” kata ibu sambil menyelipkan tas. “Buat ongkos. Jangan lupa makan.”
“Iyo, Buk.” Ujar Aul pelan.
Tepat pukul sembilan pagi, Aul sudah berdiri di rumah produksi kerupuk. Hari ini memproduksi kerupuk jengkol menjadi target yang harus dituntaskan. Padahal, kerupuk jengkol memiliki bau menyengat, menempel di baju maupun rambut, bahkan seolah bersemayam di kepala. Tentu sangat tak disukai Aul.
“Ul, angkat yang itu!” teriak Uni Rani dari dalam.
Aul mengangguk. “Iyo, Uni.”
Begitu terangkat, sontak saja uap panas yang bercampur aroma jengkol menyeruak, Aul spontan menoleh ke luar jendela.
“Rasanya ingin lari jauh,” gumamnya.
“Apa?” Uni Rani menoleh.
“Nda, Uni.” Balas Aul dengan senyuman kecil.
Setelah semua aktivitas diselesaikan, tepat jam tiga sore, Aul kembali pulang. Badannya lengket oleh keringat dan ditempeli bau jengkol. Setibanya dirumah, masih beragam aktivitas yang harus direcokinya. Ia langsung mencuci pakaian, menyapu, lalu menyiapkan obat ayah.
“Ul, kawan-kawanmu nda ngajak jalan?” tanya ayah pelan.
Aul terdiam sebentar. “Lagi sibuk, Yah.”
Padahal yang sibuk itu dirinya.
Selepas maghrib, Aul berganti peran dan seragam. Kaos polos dengan rok hitam mewarnai riasannya. Begitu malam tiba, ia bekerja di toko serba hingga larut malam.
“Capek kau, Ul?” tanya temannya di kasir.
Aul tersenyum. “Biasa.”
“Libur semester kok kerja terus.”
“UKT nda libur,” jawab Aul pelan.
Malam itu, jam sudah menunjukkan pukul 00.17, waktunya istirahat dan menutup toko. Jalanan sepi, dan penerangan sudah melebur dengan malam. Di kepalanya, hanya ada satu pertanyaan yang selalu datang tiap malam.
Kalau aku berhenti sebentar saja, siapa yang mengambil peranku?
Begitu sampai dirumah, ayah sudah tertidur. Begitupun dengan Ibu yang berbaring dengan wajah lelah. Aul terduduk di lantai dengan punggung yang bersandar ke dinding.
Tangannya bergerak cepat membuka ponsel. Melihat ig, wa teman-teman kampus ramai, foto liburan, gelak tawa, pantai dan kopi.
Jemarinya sempat mengetik, lalu menghapus.
“Besok kerja lagi,” bisiknya pada diri sendiri.
Libur semester itu ada. Tapi tidak untuk Aul.
Pikirannya kacau, dibarengi rasa sumpek. Nilai kuliahnya tak selalu berjalan sesuai ekspektasi. Hal itu acapkali membuat dadanya sesak. Setidaknya, di sela semua lelah, ia berharap punya sedikit waktu untuk membaca buku-buku yang ia suka, buku yang membawanya pergi, meski hanya lewat kata-kata.
Aul punya banyak mimpi. Terlalu banyak, bahkan tak jarang sungkan untuk bermimpi. Ia sering meletakkan tanda tanya besar pada dirinya sendiri, tentang hidup yang sedang ia jalani.
Apakah kehidupan ini berjalan karena aku tak pernah menyerah untuk mencoba? atau aku terus hidup karena aku tak pernah benar-benar mencoba untuk menyerah?
Bersambung….