Perubahan Suhu Tidak Merata Pengaruhi Kondisi Lingkungan

Sosok Muslim Muin, selaku TGUPP (Foto: Zaitun/suarakampus.com)

Suarakampus.com- Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), penyebab utama krisis iklim ialah peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20. Peningkatan suhu tersebut diakibatkan oleh konsentrasi rumah kaca dan perubahan suhu yang tidak merata.

Menanggapi hal ini, Tim Gubernur Untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP), Muslim Muin mengatakan, anomali atau keadaan cuaca yang terjadi saat ini merupakan kondisi menyimpang dari situasi normal. “Hal ini menjadi ancaman dalam kehidupan tentunya,” katanya, Selasa (08/02).

Kata dia, perubahan cuaca yang tidak teratur berdampak buruk terhadap lingkungan seperti musim hujan yang memberi efek buruk, hal ini kerap terjadi ketika volume air sungai mengalami peningkatan, sehingga menghambat keberlangsungan hidup masyarakat sekitar. “Debit air yang tinggi menjadi penyebab terjadinya banjir hingga erosi sungai yang semakin besar,” ujarnya saat menyampaikan materi.

Menurutnya, tingginya debit banjir di Indonesia dapat ditanggulangi dengan normalisasi sungai, mengembalikan pada kondisi semula dengan tetap mempertahankan ruang luapnya. “Normalisasi ini susah untuk direalisasikan di masa sekarang, karena tidak memungkinkan untuk mengembalikan sungai pada bentuk semula,” ucapnya.

“Cara efektif melakukan normalisasi adalah dengan cara memperbesar kapasitas saluran drainase serta mempertinggi tanggul sungai,” tambahnya.

Kendati demikian, Muslim menuturkan adapun penanggulangan lainnya, yaitu naturalisasi dalam memperbaiki kondisi untuk mencegah terjadinya banjir serta memelihara lingkungan hidup. Usaha ini merupakan bentuk dari pengembalian Daerah Tangkap Air (DTA) sesuai dengan fungsi alaminya.

“Solusi ini dapat meminimalisir terjadinya banjir dan tetap mempertahankan batu-batu alami disepanjang sungai,” tuturnya.

Ia berharap, sistem saluran air dapat dibentuk sebaik mungkin agar air tidak tersumbat. Seperti mengendalikan DTA dapat memangkas puncak debit banjir, serta mengurangi erosi di sungai. “Dengan adanya saluran ini air dengan sendirinya dapat tersimpan dalam tanah, sehingga tidak terjadi kekeringan nantinya,” harapnya. (ndn)

Wartawan: Zaitun Ul Husna (Mg)

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Revitalisasi Payung Hukum Kasus Kekerasan Seksual di Indonesia

Next Post

Sederhana

Related Posts
Total
0
Share
410 Gone

410 Gone


openresty