Sudah Cukup Ini Saja Buatku Kecewa

Ilustrasi seorang perempuan yang sedang patah hati dan mengalami kekecewaan yang mendalam. Sumber: Najwalin Syofura.

Oleh : Najwalin Syofura
(Mahasiswi UIN Imam Bonjol Padang)

Hujan rintik membasahi trotoar Padang, seolah turut mewakili perasaan Ajwa yang saat ini sedang berdiri di depan kedai kopi tempat ia dan Dimas biasa bertemu. Di tangannya,
“Kopi hitam dan kopi susu gula aren pak”, kata Ajwa.
Ada dua gelas kopi, satu kopi hitam kesukaan Nofri, satu lagi kopi susu gula aren untuk dirinya. Sudah melakukan hal-hal kecil yang ia harap bisa dimengerti oleh Nofri sebagai tanda rasa sayang dan cintanya untuk dia. Akan tetapi, dia tidak peka.

Saat sosok lelaki itu muncul, wajah Ajwa seketika berubah cerah dan salting. Ia melambaikan tangan, lalu menyodorkan gelas kopi itu segera setelah Nofri duduk di hadapannya.

“Ini, buat kamu. Tadi kebetulan aku lewat kedai ini dan ada nampak kamu, ingat banget kamu suka yang ini,” ucap Ajwa sambil tersenyum lebar, matanya menatap tulus ke arah Nofri walau agak salting, berharap ada kilatan pengertian dan peka di sana.

Nofri menerima gelas itu dengan senyuman manisnya. Walaupun, Ajwa agak salting dalam hati saat melihatnya. Karena, Ajwa perdana menyukai orang yang depan mata bukan dari hape “Wah, makasih ya, wa. Kamu emang paling pengertian sama teman. Ada aja perhatiannya,” jawabnya sambil tersenyum biasa, tanpa ada getaran lain di suaranya.

Hati Ajwa sedikit teriris, tapi ia berusaha tetap tegar. Ini bukan pertama kalinya. Sudah berbulan-bulan ia memberikan kode-kode, berusaha mengemis perhatian dan rasa cinta yang sama, tapi Nofri seolah hidup di dunia yang berbeda tak pernah peka, tak pernah mengerti.

“Nof,” panggil Ajwa pelan, memainkan ujung lengan bajunya dengan gugup. “Kamu ada nggak merasa? Kalau aku sering banget ada di samping kamu? Selalu bersemangat kalau ada kamu? Kalau aku selalu ingat kejadian kecil tentang kamu? Padahal hal itu nggak semua orang bisa lho ingat.” Kataku dengan berharap ada dia merasakan.

Nofri mengerutkan kening sedikit, lalu mengangguk santai. “Tentu saja aku merasa. Kamu temanku. Kamu selalu ada pas kita barengan sama yang lain. Aku bersyukur banget punya teman kayak kamu.”

Kalimat itu seperti pisau kecil yang menusuk ulu hati Ajwa. Teman? Selalu teman. Padahal ia sudah berusaha berteriak lewat perbuatan, lewat kata-kata tersirat, lewat tatapan yang selalu meminta lebih. Doa yang selalu ada namanya. Ia mengemis agar Nofri sadar, agar ia melihat bahwa apa yang ia berikan bukan sekadar rasa persahabatan. Akan tetapi, dia tidak sadar dengan apa yang diusahakan oleh Ajwa.

“Terus… kalau misalnya ada orang yang melakukan semua itu ke kamu, tapi dia punya rasa yang lebih dari sekadar teman, menurut kamu gimana?” tanya Ajwa lagi, matanya berusaha mencari jawab di wajah Nofri. Ia berharap kali ini kodenya sampai.

Nofri tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Wah, berarti orang itu orang yang baik banget ya. Tapi kalau aku nggak punya rasa yang sama, aku harus bilang baik-baik dong. Biar dia nggak berharap lebih, kan? Dan fokus dengan kuliahnya. Kasihan kalau dia berjuang sendirian, ngasih kode-kode tapi aku malah nggak ngerti-ngerti.”

Ajwa menunduk dalam. Kata-kata itu terasa sangat pedih, tapi sekaligus membuka matanya lebar-lebar. Ia sadar sekarang ia sudah terlalu lama mengemis rasa cinta yang tidak pernah ada, ia sudah terlalu banyak melempar kode yang selalu jatuh ke tanah karena orang yang dituju sama sekali tidak peka atau mungkin peka, tapi pura-pura tidak tahu karena tidak ingin menyakiti.

“Kamu bener, Nof,” jawab ajwa pelan, kali ini senyumnya terasa lebih ikhlas, meski ada sisa rasa sakit yang perlahan hilang. “Kasihan banget orang itu, ya. Berjuang sendirian, berharap dimengerti, tapi ujungnya sia-sia aja.”

Nofri mengangguk setuju, sama sekali tidak menyadari bahwa orang yang ia bicarakan itu ada tepat di depannya. “Iya kan? Makanya, lebih baik dia berhenti aja. Cinta itu nggak boleh diminta-minta atau dikode-kodein terus. Kalau memang bukan jalannya, nggak akan pernah nyambung.”

Ajwa mengangkat kepalanya, menatap Nofri untuk terakhir kalinya dengan pandangan yang berbeda bukan lagi pandangan penuh harap, melainkan pandangan perpisahan dari perasaannya sendiri dan tak ingin melihatnya lagi.

“Iya, Nof. Kamu benar sekali,” ucap Ajwa mantap. “Mulai sekarang, dia bakal berhenti. Nggak bakal ada lagi yang mengemis perhatian, nggak bakal ada lagi kode kodean yang nggak pernah dimengerti. Semua itu takkan terulang lagi.”

“Nah, gitu dong. Itu baru bijak,” sahut Nofri sambil tersenyumnya yang manis,
“Mungkin terakhir ini saja aku bisa melihat senyumannya dan tak bisa lihat dia lagi” ucap Ajwa dalam hati. Masih tetap tidak mengerti apa yang sebenarnya baru saja terjadi.

Ajwa bangkit berdiri, merapikan tasnya. Di dalam hatinya, ada rasa lega yang luar biasa beratnya. Ia sudah melepaskan beban terberatnya, berharap pada seseorang yang tidak pernah bisa melihatnya lebih dari sekadar teman dan mengerti bahwa ia sedang ingin mendapatkan dia.

“Aku pulang duluan ya Nof, Hujan gak berhenti dari tadi takutnya ada kegiatan lain di kos,” pamit Ajwa dengan jantung yang sakit rasanya.

“Oke, hati-hati ya! Besok ketemu lagi di sini ya!” seru Nofri dari meja dengan senyumannya.

Ajwa hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, lalu berjalan pergi menjauh. Langkah kakinya terasa lebih ringan dari sebelumnya. Ia tahu, apa yang dulu ia lakukan mengemis cinta, melempar kode tanpa balasan takkan pernah terulang lagi. Ia sudah belajar, bahwa cinta yang benar tidak perlu diperjuangkan sendirian, dan tidak akan pernah membutuhkan ribuan kode untuk dimengerti.

Sejak hari itu, Ajwa tidak pernah lagi datang ke kedai kopi itu pada jam yang sama. Dan Nofri, seperti biasa, tetap tidak pernah mengerti alasan di balik perubahan itu dan tak melihanya di kampus walaupun dia sudah mencari Ajwa. Baginya, semuanya tetap sama. Tapi bagi Ajwa, semuanya sudah berakhir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Guru Honorer Tidak Boleh Mengajar di 2027

Next Post

Menjadi Alamat Bagi Pulangmu

Related Posts