Prestasi Antar Okta Farhan Jadi Bintang Aktivis Kampus

Okta Farhan. Sumber: Pribadi narasumber.

Suarakampus.com– Mahasiswa Program Studi Tadris Fisika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Imam Bonjol Padang, Okta Farhan Syahendra meraih penghargaan Bintang Aktivis. Prestasi ini diraih atas kepemimpinan, dan kontribusinya dalam kegiatan kemahasiswaan, Kamis (30/7).

Okta menuturkan keaktifannya berawal dari pandangan bahwa kampus tidak hanya mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter. “Saya ingin belajar bekerja sama melalui organisasi,” Tuturnya.

Ia mengatakan langkah pertamanya mulai menjadi panitia Follow Up dan Temu Ramah 2023 saat semester dua. “Dari sana saya belajar beradaptasi dan memahami organisasi,” katanya.

Mahasiswa itu mengungkapkan selama kuliah ia menjabat Ketua Koordinator Bidang Intelektual HIMAFI 2024 serta mengikuti pengabdian masyarakat, English Club, Student Literacy Camp, penelitian dosen, dan kepanitiaan. “Setiap kegiatan memberi pengalaman baru,” ungkapnya.

Okta menuturkan saat kuliah ia menjadi penyusun soal, juri olimpiade SMA/MA, pemateri Kajian Bulanan HIMAFI, Sekretaris Bidang Literasi dan Jurnalistik AMR Kota Padang, serta peserta Student Mobility ke Australia melalui Sibac-SIP. “Kesempatan belajar di Australia menjadi pengalaman paling berkesan,” tuturnya.

Mahasiswa FTK itu mengatakan ia meraih Juara 1 Olimpiade Fisika Nasional 2024, Juara 1 Microteaching Nasional 2025, Juara 1 Qira’atul Kutub tingkat universitas, Juara 1 Edu Challenge, Juara 1 Cipta Alat Fisika, dan Juara 1 MTQN Kabupaten Pesisir Selatan. “Prestasi itu memotivasi saya untuk terus berkembang,” katanya.

Ia juga meraih Juara 2 Hafalan 500 Hadis tingkat Sumatera Barat, Juara 2 Karya Tulis Ilmiah Internasional, Juara 2 Cerdas Cermat Fisika, Juara Harapan 1 Tafsir Bahasa Indonesia, Juara Harapan 1 Hafalan 500 Hadis, Juara Harapan 2 Qira’atul Kutub, serta menjadi peserta OASE 2023 dan Festival Surau Milad PERTI 2024. “Juara Olimpiade Fisika Nasional menjadi pencapaian yang paling saya banggakan,” ujarnya.

Okta menjelaskan tantangan terbesar adalah rasa kurang percaya diri dan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. “Saya memilih fokus pada perkembangan diri,” jelasnya.

Untuk mengatur waktu ia menerapkan skala prioritas, membuat journaling, dan belajar sedikitnya satu jam setiap hari di luar kuliah. “Saya membagi waktu sesuai prioritas,” katanya.

Okta menilai penghargaan tersebut merupakan amanah untuk terus memberi manfaat bagi lingkungan. “Jangan takut memulai karena prestasi adalah evaluasi diri, bukan sekadar validasi,” ujarnya.

Menurutnya penghargaan ini bukan hasil sendiri tapi buah dari konsistensi,kontribusi, dan memberi manfaat bagi masyarakat.”penghargaan ini bukanlah garis akhir, melainkan amanah untuk terus berkarya dan menginspirasi. Tuturnya.

Ia berharap mahasiswa tidak takut memulai langkah, mencoba hal baru, serta tidak membatasi potensi diri.”Jangan pernah takut untuk memulai. Prestasi bukan sekadar ajang validasi, tetapi menjadi evaluasi atas kemampuan diri. Kalau tidak mencoba tidak akan tahu sejauh mana kita bisa,” tutupnya. (Fau)

Wartawan: Haida Putri Lubis (Mg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Nabil Makarim Raih Bintang Aktivis Lewat Konsistensi Berorganisasi

Related Posts