Rifki Al Farez Raih Terbaik 5 Duta Bahasa Sumatra Barat 2025

Sumber: Dokumentasi pribadi narasumber

Suarakampus.com – Muhammad Rifki Al Farez, mahasiswa prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Imam Bonjol Padang, terpilih sebagai Terbaik 5 Duta Bahasa Sumatra Barat Tahun 2025. Berkat ketekunan dan semangat pantang menyerah, mahasiswa asal Kampar ini berhasil wujudkan mimpinya. Minggu, (01/06)

Ajang ini tidak hanya menilai dari fisik, tetapi lebih mengutamakan pengetahuan dan kecerdasan. “Rasanya bangga dan terharu, karena ini pencapaian yang tidak mudah,” ujarnya.

Ia menyampaikan bahwa tantangan paling berat justru muncul saat tes wawancara bahasa asing, presentasi krida, dan wicara publik. “Itu sangat menguras energi dan mental,” katanya. 

Menurutnya, Duta Bahasa menjadi ajang paling bergengsi karena menempatkan kecerdasan sebagai aspek utama seleksi,  dari beberapa duta yang pernah ia ikuti.“Ajang ini menomorsatukan kemampuan intelektual,” jelas Rifki.

Rifki mengaku pernah mengikuti seleksi di tahun sebelumnya, namun gagal di tahap 30 besar. “Alhamdulillah tahun ini lolos top 10 dan dipercaya jadi terbaik lima,” katanya.

Ia mengatakan persiapannya tidak terlalu berat karena sudah belajar dari pengalaman sebelumnya. “Saya sudah tahu pola seleksinya, jadi tinggal memantapkan diri,” katanya.

Keberhasilan ini tidak lepas dari peran besar orang tua, yang selalu mendukungnya dalam proses. “Kalau bukan karena papa dan mama, mungkin saya tidak akan ada di atas panggung itu,” ucapnya.

Dua sosok penting juga turut memberi semangat, yakni Riko Rahmad Adriansyah dan Ihsanul Fuadi Yusda, yang merupakan peraih Terbaik 2 di tahun 2024 dan 2023. “Mereka jadi tempat saya berdiskusi selama pemilihan dan karantina,” kata Rifki.

Selama karantina, ia merasa banyak momen berkesan, terutama dalam menjalin keakraban dengan peserta lain. “Kami saling bertumbuh dan membentuk satu keluarga baru di Ikatan Duta Bahasa Sumbar,” tuturnya.

Rifki menyampaikan harapannya, agar bisa menjalankan amanah selama setahun bahasa dengan maksimal. “Duta bahasa bukan ahli bahasa, tapi orang yang peduli dan mau berbuat untuk bahasa sebagai identitas bangsa,” tutupnya. (asr)

Wartawan: Fauziah Maharatih Wahyuni (Mg), Zahra Mustika (Mg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Mahasiswa UIN IB Raih Pemain Terbaik Voli Sumbar

Next Post

Bengkel Kata Siapkan Jurnal Ilmiah Perdana Lewat Bimtek

Related Posts