Oleh: Najwalin Syofura
(Mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam)
Di sudut kota Padang yang teduh, terdapat cafe bernama cafe hilang arah. Tempat itu selalu berbau harum teh hijau segar dan gula aren yang dimasak perlahan. Setiap sore pukul empat, Lina pasti datang. Ia selalu memesan satu gelas matcha latte manis sedang, lalu duduk di meja dekat jendela serta dengan ruangan Indoornya.
Bagi galaksi, pelayan sekaligus pembuat minuman di sana, kedatangan ruhi adalah hal yang paling dinanti. Sudah tiga bulan ia menahan rasa, hanya berani tersenyum ramah saat menerima pesanan yang bernama galaksi. Hingga suatu sore mendung, hal tak terduga terjadi, mereka mengobrol panjang lebar, dan galaksi memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya lewat rasa minuman kesukaan gadis berhijab maroon itu.
“Setiap kali meracik matchamu, saya selalu berusaha mencari rasa paling pas seperti ingin menyampaikan sesuatu yang tak sempat diucapkan,” kata galaksi waktu itu. “Persis seperti perasaan saya padamu dan manisnya matcha seperti manisnya kamu.”
Ruhi pun menyambut baik perasaan itu, walaupun dirinya dalam hati salting dan baper. mereka sepakat akan bertemu lagi keesokan harinya. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung mulus.
Dua hari kemudian, pemilik kedai bapak sutomo mengabarkan akan memindahkan usahanya ke kota lain dalam waktu dekat. Artinya, galaksi harus ikut pindah atau kehilangan pekerjaan. Di saat bersamaan, ruhi mendapat tawaran beasiswa kuliah di luar Sumatera yang harus ia putuskan secepatnya.
Suatu sore ruhi datang dengan wajah murung. Galaksi sudah tahu kabar itu, dan ia pun berat hati bercerita.
“Cafe iko nio tutuik, wak harus pindah,” ucap galaksi pelan sambil meletakkan gelas matcha di meja untuk ruhi. “Kalau kamu berangkat kuliah nanti… bagaimana dengan kita?”
Ruhi menunduk menatap minumannya dengan matanya yang berkaca kaca “Aku bingung, galaksi. Ini kesempatan besar, tapi aku takut kita tak akan sempat bertemu lagi. Apakah hubungan ini hanya sebatas rasa manis yang cepat hilang?”
Suasana menjadi kaku. Mereka sama-sama tak mau berpisah, tapi tak ada yang tahu cara menyatukan rencana masing-masing.
Hari terakhir cafe buka tiba lebih cepat dari dugaan. Langit mendung tebal persis seperti sore pertama mereka mengobrol. Galaksi menyiapkan dua gelas si manis matcha dengan hati berdebar. Ia berniat bicara sekali lagi sebelum berangkat, meski sudah bersiap mendengar jawaban sulit.
Ruhi datang membawa tas besar dan surat keputusan beasiswa yang sudah ditandatanganinya.
“Aku sudah terima tawaran itu,” katanya lirih, mata berkaca-kaca.
Galaksi tersenyum getir, lalu mendorong satu gelas ke hadapan gadis itu dengan wajah kagetnya, “Kalau begitu, nikmati yang terakhir ini. Aku kira begitulah akhirnya.” Dengan wajah yang sedih.
Namun saat ruhi baru menyesap sedikit, ia tiba-tiba menahan tangan galaksi yang hendak berbalik pergi dengan wajah murungnya.
“Tunggu dulu,” serunya tegas. “Kamu bilang matcha ini manis tapi tak mudah hilang rasanya, kan? Begitu pun rasa kita. Kita tak harus berhenti hanya karena jarak memisah.”
Galaksi terkejut. “Maksudmu?”
“Aku sudah pikirkan semalam,” lanjut ruhi sambil menatap tajam namun lembut. “Aku akan pergi kuliah, tapi saat libur aku pasti pulang. Dan kamu.. kalau mau tetap meracik si manis matcha, bukankah bisa dimanapun kamu berada? Kita bisa buat janji temu tetap, di sini atau di tempat baru.”
Rasa cemas galaksi perlahan runtuh. Ia menyadari bahwa rintangan terbesar selama ini bukanlah jarak atau perpisahan, melainkan keraguannya sendiri.
Seminggu kemudian, galaksi tak ikut kedai pindah. Ia memilih bekerja di cafe lain di kota Padang dekat taplau agar tetap selalu meminum favorit dengan tempat favoritnya taplau (tepi laut) tetap bisa menunggu kepulangan ruhi. Sebelum berangkat, mereka membuat kesepakatan sederhana, setiap kali Lina pulang, pertemuan pertama pasti diakhiri dengan dua gelas si manis matcha untuk dia dan galaksi.
Satu bulan berlalu. Sore itu langit cerah. Di cafe baru milik kenalan galaksi dengan suasana pantai, ruhi muncul dengan penampilan yang sedikit berbeda namun senyumnya tetap sama dan manis. Galaksi sudah berdiri di balik meja dengan dua gelas hijau berbusa lembut.
“Masih ingat rasanya?” tanyanya sambil meletakkan pesanan di meja.
Ruhi tertawa riang sambil segera menyesap. “Tetap sama manis seperti kamu, hangat, dan tak pernah salah rasa. Seperti janji kita.”
Galaksi tersenyum lega. Perpisahan sementara ternyata tak melunturkan rasa cinta mereka, justru membuat setiap pertemuan terasa makin berharga. Minuman hijau manis itu kini bukan sekadar kesukaan biasa, melainkan saksi perjalanan cinta yang tahan jarak dan waktu.