Suarakampus.com– Hubungan seorang Muslim dengan Al-Qur’an tidak berhenti pada bacaan semata, melainkan melalui proses bertahap yang mencerminkan perjalanan spiritual dan intelektual. Dalam ceramah di kanal YouTube @aamamiruddinOfficial, dijelaskan tiga tingkatan utama dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, Sabtu (21/02).
Dalam ceramahnya, Aam Amiruddin mengungkapkan terdapat tingkatan interaksi dalam membaca al-qur’an yang harus dipahami. “Tiga diantaranya adalah qiraah, tilawah dan tadabbur,” ungkapnya.
Aam merincikan, tingkatan pertama dalam berinteraksi dengan al-qur’an adalah qiraah. “Qiraah merupakan upaya dalam membaca Al-Qur’an meskipun masih terbata-bata,” rincinya.
Aam menjelaskan, orang yang berada pada tahap qira’ah biasanya merasa kurang percaya diri. “Padahal, orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata tetap memperoleh pahala ganda,” jelasnya.
Penceramah tersebut menegaskan, tingkatan kedua adalah tilawah. “Orang yang membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai kaidah tajwid,” tegasnya.
Menurutnya, untuk mencapai tingkat tilawah diperlukan proses tahsin. “Jika sudah masuk ketahap ini, maka bacaan sudah lebih baik,” tuturnya.
Kendati demikian, Aam menuturkan tingkatan tertinggi adalah tadabur. “Tahapan membaca Al-Qur’an disertai upaya memahami dan merenungi makna,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa dalam praktik kajian, tadabur dapat dilakukan melalui dua pendekatan. “Pendekatan analitis atau tahlili, dan pendekatan tematik atau maudhu’i,” lanjutnta.
Ia menjelaskan, untuk menyempurnakan bacaan, tahsin menjadi jembatan penting dari qira’ah menuju tilawah. “Proses ini dilengkapi koreksi serta konsistensi dalam memperbaiki kualitas bacaan,” jelasnya.
Aam berharap, umat Islam tidak berhenti pada satu tingkatan saja. “Setiap Muslim harus terus meningkatkan kualitas interaksinya dengan Al-Qur’an,” tutupnya. (Fau)
Wartawan : Nur Hanifah (Mg)
Tiga Tingkatan Interaksi dengan Al-Qur’an