Suarakampus.com– Tradisi tadarus Al-Qur’an merupakan amalan identik pada bulan Ramadhan. Aam Amiruddin dalam kajiannya di kanal youtube aamamirudinofficial, menyampaikan akar sejarah tadarus serta kaitannya dengan proses penyusunan mushaf Al-Qur’an, Sabtu (21/02)
Aam Amiruddin mengungkapkan, praktik tadarus bukan tradisi baru tanpa landasan. “Praktik tersebut memiliki landasan kuat sejak masa Nabi Muhammad,” ungkapnya.
Aam menjelaskan, setiap Ramadhan, Jibril datang untuk membacakan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad. “Nabi menyimak dan mengulang bacaan tersebut,” jelasnya.
Dalam pemaparannya, penceramah menyebutkan peristiwa tersebut menjadi dasar lahirnya praktik tadarus. “Praktik tersebut bahkan hingga kini terus dilestarikan umat islam,” paparnya.
Aam menambahkan, proses yang dialami Muhammad dengan Jibril bukan sekadar pengulangan bacaan. “Dalam proses tersebut, terdapat penegasan susunan ayat-ayat Al-Qur’an,” tambahnya.
Menurutnya, susunan Al-Qur’an mulai dari Al-Fatihah hingga An-Nas, tidak terlepas dari persitiwa Muhammad dan Jibril. “Susunan surat tersebut kini dikenal sebagai sistematika mushaf,” ujarnya.
Aam menuturkan, penetapan urutan tersebut memiliki peran penting dalam menjaga keutuhan dan keseragaman bacaan Al-Qur’an di seluruh dunia Islam. “Dengan sistematika yang telah ditetapkan, umat Islam di berbagai negara membaca Al-Qur’an dalam susunan yang sama,” tuturnya.
Kendati demikian, ia menegaskan urutan mushaf berbeda dengan urutan turunnya wahyu. “Hal tersebut terjadi karena penyusunan dihimpun berdasarkan penetapan yang diajarkan kepada Nabi,” tegasnya.
Di Indonesia, Aam menyebutkan, istilah tadarus dipahami sebagai kegiatan membaca Al-Qur’an secara bersama-sama hingga khatam. “Praktik ini menjadi ciri khas Ramadhan di masjid, mushala, dan rumah-rumah warga Indonesia usai tarawih,” sebutnya.
Di akhir kajiannya, Aam mengajak umat Islam untuk menghidupkan Ramadhan dengan tadarus. “Selain memperkuat bacaan, tadarus juga mempererat ukhuwah dan menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sebagai pedoman hidup,” pungkasnya. (Fau)
Wartawan : Zahra Mustika
Tadarus dan Sejarah Penyusunan Mushaf