Ketimpangan Global Cerminkan Wajah Asli Peradaban Barat

Narasumber Vier Agi Leventa menyampaikan materi dalam diskusi daring bertajuk “Jangan Lupa, Eropa-Barat Itu Penjajah” yang diselenggarakan oleh Dakwah Ideologis melalui Zoom Meeting, Sabtu (14/06/2025). Foto: Muhammad Adam/Suarakampus.com.

Suarakampus.com – Ketimpangan global yang mencolok antara negara berkembang dan negara Barat menjadi sorotan dalam diskusi daring yang diselenggarakan oleh Dakwah Ideologis bertajuk Jangan Lupa, Eropa-Barat Itu Penjajah. Kegiatan ini digelar melalui Zoom Meeting dengan menghadirkan Vier Agi Leventa sebagai narasumber utama, Sabtu (14/06).

Tak semua harapan peserta terpenuhi lantaran pembahasan sejarah kolonialisme justru diabaikan dalam diskusi. Alih-alih menelisik masa lalu, narasumber mengajak audiens menyelami ketimpangan global serta dominasi peradaban Barat kontemporer sebagai fokus utama.

Vier menjelaskan bahwa sebagian peserta awalnya mengira topik akan berfokus pada sejarah kolonialisme. “Saya tidak akan membahas sejarah malam ini, karena Niko Pandawa lebih ekspert di bidang itu,” tegasnya.

Narasumber tersebut menyatakan fokus diskusi dialihkan pada ketimpangan global yang saat ini terjadi akibat dominasi peradaban Barat. “Fokus kita lebih banyak pada kondisi hari ini,” tambahnya.

Ia menyampaikan bahwa rekaman materi diskusi akan tersedia di kanal pribadinya agar bisa diakses lebih luas. “Silakan cari di kanal Agile Penta untuk melihat catatan-catatan pemikiran saya,” ucapnya.

Leventa menekankan bahwa kolonialisme tidak hanya tentang penjajahan wilayah, tetapi juga penguasaan terhadap sumber daya strategis. “Termasuk sumber daya alam, budaya, ekonomi, hingga politik,” ungkapnya.

Menurutnya, istilah “Eropa Barat” dan “Amerika” sejatinya merujuk pada wajah peradaban, bukan semata-mata entitas geografis. “Sekularisme dan hegemoni budaya Barat dibungkus dalam istilah kemajuan,” katanya mengutip Adian Husaini dan Syed Naquib al-Attas.

Ia mengingatkan bahwa kolonialisme dahulu membawa dalih memperadabkan dunia non-Barat melalui simbol seperti pakaian, teknologi, dan tatanan sosial. “Barat mengklaim memperadabkan, tapi sebenarnya menormalisasi ketimpangan kuasa,” tegasnya.

Ketimpangan tersebut, lanjut Leventa, terlihat jelas dalam data konsumsi energi global yang ia kutip dari situs CIA. “Indonesia hanya mampu mengonsumsi 1.200 kWh per kapita, sementara Amerika Serikat mencapai 12.000 kWh,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa secara keseluruhan, 90 negara berkembang rata-rata hanya mengonsumsi 10 juta BTU energi per kapita setiap tahunnya. “Sedangkan 50 negara Barat mengonsumsi hingga 117 juta BTU per kapita,” jelasnya.

Menurutnya, fakta ini menunjukkan bahwa ketimpangan global tidak bersifat kasuistik, melainkan sistemik dan terstruktur. “Ketimpangan global bukan mitos, melainkan sistematis dan nyata,” tegasnya.

Leventa menilai bahwa diskusi seperti ini penting untuk membuka kesadaran publik tentang wajah asli dominasi modern Barat. “Tanpa kesadaran, kita akan terus menjadi korban narasi kemajuan versi penjajah,” tutupnya. (ver)

Wartawan: Faiza Septiani Putri (Mg), Muhammad Adam (Mg), Harvizaq Rafkhi (Mg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Mentawai Terancam, HIMA AFI Gelar Diskusi Lawan Perampasan Ruang Hidup

Next Post

Gedung Tinggi , Tanpa Tempat Bersujud

Related Posts