Suarakampus.com – Himpunan Mahasiswa Program Studi Akidah dan Filsafat Islam (HIMA AFI) UIN Imam Bonjol Padang berhasil menggelar diskusi bertajuk Ngobrol Pintar: Mentawai Bukan Tanah Kosong!!, pada Jumat malam (13/06) di Sekretariat HIMA AFI. Diskusi yang mengangkat isu perampasan ruang hidup masyarakat Mentawai ini mendapat respon positif dari peserta dan menjadi langkah awal kesadaran mahasiswa. Sabtu (14/06)
Kegiatan yang melibatkan kolaborasi dengan LBH Padang, WALHI Sumbar, Formma (Forum Mahasiswa Mentawai), YCM Mentawai, dan Mapala Alpichanameru ini dilatarbelakangi oleh ancaman terhadap hutan Mentawai yang bermula dari terbitnya izin Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) yang diberikan kepada PT. Sumber Permata Sipora, yang dinilai dapat merampas ruang hidup masyarakat adat di sana.
Ketua Umum HIMA AFI, Muhammad Hafrizzi menjelaskan, kolaborasi dalam kegiatan ini menjadi jaringan terbangun dari hubungan personal dan kedekatan antar organisasi. ” Jadi cukup mudah untuk saling mengundang dan bekerja sama,” katanya.
Hafizzi mengatakan, kegiatan ini atas kesadaran mahasiswa tentang isu lingkungan yang terjadi di Sumatera Barat. “Kita selaku mahasiswa yang kuliah di Padang harus peka terhadap isu lingkungan yang terjadi di sekitar kita,” ujarnya.
Ia menilai respons mahasiswa terhadap isu ini sudah tampak di media sosial seperti di Instagram dan TikTok, namun belum menyentuh akar persoalan. “Perlu menguliti persoalan ini lewat diskusi langsung dan memberi dukungan nyata melalui media,” jelasnya.
Ketua Pelaksana, Azrian Isyfaul Fuadi mengungkapkan bahwa persiapan teknis dimulai sejak hari Kamis, termasuk perlengkapan dan pengaturan tempat. “Kalau untuk pemantik, itu sudah diatur oleh komunitas yang berkolaborasi bersama kami,” ungkapnya.
Ia menambahkan, diskusi ini bertujuan menyadarkan mahasiswa agar peduli terhadap persoalan ketimpangan yang dialami masyarakat Mentawai. “Kami ingin mahasiswa sadar bahwa saudara kita di Mentawai sudah dirampas hak-haknya oleh pihak yang tidak bertanggung jawab,” ujarnya.
Menurut Azrian, tantangan dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah keterbatasan pengalaman panitia dalam menjalin kerja sama lintas komunitas. “Karena ini pertama kali kolaborasi dengan pihak luar, jadi kami banyak belajar dari prosesnya,” katanya.
Meski begitu, Azrian merasa forum yang telah berlangsung memberi dampak positif dan memberi kesan mendalam bagi panitia maupun peserta. “Diskusinya hidup, semua peserta setara, nggak ada sekat jabatan, kita tertawa bareng, serius bareng,” tuturnya.
Ia juga mengapresiasi, sikap para pemantik yang menyampaikan materi secara jujur dan menggugah semangat perjuangan. ” Para pemantik transparan dan tidak menggurui, mereka justru memantik semangat untuk melawan ketidakadilan,” tambahnya.
Sebagai tindak lanjut dari diskusi yang telah berlangsung, HIMA AFI membuka kemungkinan untuk mengadakan diskusi lanjutan atau turut dalam aksi jika diinisiasi oleh pihak terkait. “Kalau ada ajakan aksi atau undangan forum, kami siap hadir dan berpartisipasi,” tutupnya. (asr)
Wartawan: Fauziah Maharatih Wahyuni