Thomas Harahap
(Mahasiswa Sistem Informasi)
Saya salah satu mahasiswa yang peduli, kecewa, dan muak. Muak melihat bagaimana Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan — yang seharusnya menjadi wadah kaderisasi dan regenerasi pemimpin ideal kampus — justru berubah jadi panggung sandiwara, penuh agenda tak kasat mata, dan aroma busuk kepentingan.
Mari kita bicara soal fakta. Surat edaran pertama, Nomor: B.270/Un.13/R/B.IV/PP.00.9/10/2025, secara tegas mencantumkan syarat pendaftar maksimal duduk di semester 5. Itu adalah ketentuan yang sah dan resmi. Namun tiba-tiba, tanpa evaluasi terbuka, tanpa transparansi, dan tanpa klarifikasi yang pantas, pengumuman kelulusan yang dikeluarkan lewat Surat Nomor: B.2820/Un.13/R/B.IV/PP.00.9/10/2025, mengakomodasi peserta di luar batas semester tersebut.
Apa ini bukan bentuk kebobrokan sistem?
Apa ini yang kalian sebut sebagai transparansi?
Atau jangan-jangan — ini bukan soal syarat, ini soal siapa yang dekat dengan siapa.
Siapa yang satu lingkaran. Siapa yang “cukup penting untuk diluluskan”.
Politisasi di Balik Pelatihan? Jangan bodohi kami.
Pelatihan yang awalnya diklaim sebagai ajang peningkatan kapasitas justru berubah jadi alat seleksi politik—yang lolos adalah mereka yang menguntungkan jaringan tertentu.
Kami bertanya: Apakah ini pelatihan kepemimpinan, atau gladi bersih bagi regenerasi boneka-boneka baru? Dan kepada DEMA Universitas, kami bertanya:
Ini tugas kalian. Ini tanggung jawab kalian. Ini amanah kalian.
Tapi di mana suara kalian? Kenapa justru diam membisu? Dulu kalian lantang kritik PBAK. Kalian marah soal transparansi, anggaran, dan teknis. Kalian berdiri paling depan bawa megafon perlawanan. Kini saat kalian punya kuasa,Saat kalian jadi panitia dan pelaksana, Kalian justru bisu, pura-pura tidak tahu, dan mungkin saja menikmati kue yang sama.
Kami bertanya: Jangan-jangan kalian pun sudah duduk manis dalam gelapnya transaksi di balik layar?
Kalau seperti ini, lembaga mana lagi yang ingin kami percaya?
Apakah demokrasi kampus hanya ilusi?
Apakah organisasi mahasiswa hanya berubah jadi perpanjangan tangan kekuasaan?
Apakah idealisme sudah kalian gadaikan demi jabatan, atau sekadar stempel di sertifikat?
Kami tidak akan diam. Kami adalah generasi yang belajar berpikir. Kami adalah mahasiswa yang akan terus bersuara. Dan bila suara kami dianggap terlalu keras — itu karena kalian terlalu lama menutup telinga. Hari ini mungkin kalian bisa bungkamkan satu suara, Tapi ingat: kebenaran tidak akan pernah mati. Dan kami akan datang — lebih lantang, lebih dalam, dan lebih tajam.