Najwa Shihab Ajarkan Critical Journalism Ke Mahasiswa

Peserta Un-Class Session Journalism bersama Najwa Shihab dalam acara Generasi Kampus Roadshow Bogor di Gedung Entrepreneur IPB University, Rabu (22/10/2025). Foto: Dok. Panitia Narasi

Suarakampus.com– Jurnalis senior Najwa Shihab membedah peran critical thinking dalam jurnalisme melalui kegiatan Un-Class Session Journalism di Gedung Entrepreneur Institut Pertanian Bogor (IPB) University lantai tiga. Kegiatan bertema Jurnalisme Berdampak: Bertemunya Passion dan Critical Thinking ini merupakan bagian dari Generasi Kampus Roadshow Bogor hasil kerja sama Narasi dan Grab Indonesia yang dihadiri 55 peserta terpilih dari 4.900 pendaftar, Rabu (22/10).

Najwa Shihab yang akrab disapa Nana menjelaskan, passion dan critical thinking merupakan dua hal yang saling terhubung dalam dunia jurnalistik. “Passion itu ibarat api dan critical thinking pedangnya,” ujarnya.

Nana memaparkan, dalam bertugas jurnalistik penting mengetahui eksistensi dalam menggali informasi agar passion dan critical thinking berjalan senada. “Akan memunculkan tekad dan cinta untuk bertahan di passion itu,” paparnya.

Presenter acara Mata Najwa menjelaskan, meliput dengan pertanyaan apa hanya memperoleh informasi permukaan berbeda dengan pertanyaan bagaimana dan mengapa yang lebih mendalam. Nana juga memaparkan lima poin penting dalam mewawancarai narasumber.

Eks wartawan Metro TV menegaskan, liputan yang menggunakan critical thinking bukan hanya menunggu sumber resmi tetapi perlu berbagai sumber lainnya. “Perlu berbagai sumber lainnya,” jelasnya.

Nana menambahkan, kontekstualisasi menghubungkan peristiwa dengan realitas lebih luas serta mengawal penanganan kasus menjadi penting dalam jurnalisme kritis. “Active listening sangat penting, jurnalis harus sigap membaca jeda dan respons tubuh narasumber,” katanya.

Lulusan Melbourne Law School yang berfokus pada hukum media ini menjelaskan tahap wawancara yang perlu dilakukan jurnalis yakni meriset narasumber, mempersiapkan pertanyaan tidak terpaku kata apa, dan memastikan tujuan untuk publik. “Jangan terlalu setia pada list per substansinya,” ujarnya.

Nana menjawab pertanyaan peserta terkait netral dan independen dengan menegaskan netralitas justru bisa menyesatkan. “Netralitas tidak memiliki posisi, sedangkan independen tidak memiliki kepentingan tertentu,” ujarnya.

Jurnalis senior mengajak peserta lebih bijak dan cermat dalam membaca informasi di tengah tsunami informasi saat ini. “Setia pada prosesi ini dan mudah-mudahan konsisten,” tutupnya. (ver)

Wartawan: Sofi Asri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Mahasiswa UIN IB Raih Gold Medal di USIM Malaysia

Next Post

BEM Sumbar Evaluasi Setahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Related Posts