Penumpang Angkot di Padang Anjlok 49 Persen, Sopir Terancam Kehilangan Mata Pencaharian

Sejumlah angkutan kota (angkot) tampak melintas dengan kondisi penumpang minim di kawasan Pasar Raya, Kota Padang, Selasa (20/01). Data Dinas Perhubungan Kota Padang mencatat penurunan penumpang angkot hingga 48,67 persen. Sumber: Verlandi.

Suarakampus.com– Jumlah angkutan kota (angkot) di Kota Padang terus mengalami penurunan signifikan hingga lebih dari 40 persen unit berhenti beroperasi dalam lima tahun terakhir. Data Dinas Perhubungan Kota Padang tahun 2024 mencatat penurunan penumpang hingga 48,67 persen yang berdampak langsung pada penghasilan para sopir, Selasa (20/01).

Sopir angkot rute Pasar Raya-Lubuk Buaya, Heru mengatakan, kondisi penumpang saat ini jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. “Dulu dari pagi sampai sore angkot jarang kosong, sekarang sering setengah jam baru dapat satu penumpang,” ujarnya.

Heru menyebut pendapatan hariannya terus menurun drastis akibat sepinya penumpang yang memaksanya berputar lebih lama. “Pendapatan saya dulu bisa sampai Rp80 ribu, sekarang Rp30 ribu saja kadang tidak sampai,” katanya.

Kondisi tersebut sejalan dengan penelitian Dazaqki Prawira, dkk (2025) yang menunjukkan sebanyak 73 persen responden masyarakat lebih memilih transportasi berbasis aplikasi. Penelitian itu mencatat penurunan jumlah penumpang angkot hingga 48,67 persen.

Sopir angkot rute Siteba-Pasar Raya, Adi, menilai perubahan pola mobilitas masyarakat menjadi faktor utama sepinya angkot. “Orang sekarang maunya cepat, tinggal pesan lewat HP, angkot dianggap lama karena nunggu penuh,” katanya.

Adi menyatakan, kondisi tersebut membuat angkot semakin tertinggal dari segi layanan meski telah puluhan tahun mengabdi. “Kami ini sudah puluhan tahun di jalan, tapi sekarang seolah ditinggalkan tanpa solusi,” ucapnya.

Sementara itu, sopir angkot rute Pasar Raya-UNAND, Roni, mengaku sebagian sopir di trayeknya telah berhenti beroperasi karena sepinya penumpang. “Sering angkot lewat kosong, terutama di luar jam sibuk,” ujarnya.

Roni mengatakan pendapatan yang tidak menentu membuat banyak sopir tidak sanggup bertahan dalam profesi ini. “Kadang seharian narik, hasilnya cuma cukup buat bensin dan makan,” tutupnya. (Fau)

Wartawan: Verlandi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Transportasi Online dan Transpadang Dorong Penurunan Armada Angkot di Padang

Next Post

Kajian di Kemendikdasmen, Das’at Latif Ungkap Makna Isra’ Mi’raj

Related Posts