Transportasi Online dan Transpadang Dorong Penurunan Armada Angkot di Padang

Sebuah angkutan kota (angkot) melintas di kawasan Pasar Raya, Kota Padang, Selasa (20/01). Angkot tersebut masih beroperasi melayani mobilitas masyarakat di tengah penurunan jumlah armada angkutan kota. Sumber : Verlandi.

Suarakampus.com- Preferensi masyarakat Kota Padang yang 73 persen beralih ke transportasi berbasis aplikasi menjadi faktor utama penurunan jumlah armada angkutan kota (angkot) lebih dari 40 persen dalam lima tahun terakhir. Data Dinas Perhubungan setempat juga mencatat rendahnya keterisian penumpang angkot yang hanya berkisar 41–48 persen, Selasa (20/01).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatra Barat, jumlah kendaraan bermotor pribadi meningkat lebih dari 18 persen dalam tiga tahun terakhir, meskipun pertumbuhan ekonomi Sumbar tahun 2024 hanya berada di angka 4,3 persen atau di bawah rata-rata nasional.

Penelitian Dazaqki Prawira, dkk (2025) menunjukkan sebanyak 73 persen masyarakat lebih memilih transportasi online. Kondisi tersebut berdampak pada turunnya penumpang angkot hingga 48,67 persen serta rendahnya tingkat keterisian penumpang (factor load) yang hanya berkisar 41–48 persen.

Selain itu, Pemerintah Kota Padang juga mengonversi angkot menjadi layanan Bus Transpadang. Dilansir dari infopublik.id, sebanyak 231 unit angkot telah dialihkan menjadi 77 unit bus Transpadang sebagai upaya menyediakan transportasi massal yang lebih efisien dan mengurangi kemacetan.

Sopir angkot rute Pasar Raya-UNAND, Roni, menilai kebijakan tersebut turut mempercepat sepinya angkot tradisional. “Sekarang mahasiswa lebih banyak naik ojek online atau motor sendiri,” katanya.

Sopir angkot rute Siteba-Pasar Raya, Adi, mengatakan angkot semakin sulit bersaing karena dianggap tidak praktis oleh masyarakat modern. “Angkot dianggap tidak praktis karena harus menunggu penumpang penuh,” ujarnya.

Sementara itu, sopir angkot Pasar Raya-Lubuk Buaya, Heru, mengaku pendapatan para sopir terus menurun di tengah tuntutan setoran yang tetap ada. “Pendapatan kami makin turun, sementara tuntutan setoran tetap ada,” katanya.

Heru berharap pemerintah tidak hanya fokus pada pengembangan transportasi modern, tetapi juga memikirkan skema transisi yang adil. “Kami bukan menolak perubahan, tapi butuh solusi supaya tetap bisa bertahan,” tutupnya. (Fau)

Wartawan: Verlandi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Nyanyian Terakhir Burung Rangkong

Next Post

Penumpang Angkot di Padang Anjlok 49 Persen, Sopir Terancam Kehilangan Mata Pencaharian

Related Posts