Oleh: Verlandi Putra
(Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan)
Hujan mulai turun ketika azan Isya berkumandang dari masjid kecil di ujung kampung. Aku berlari kecil menuju serambi rumah, menunggu Ayah pulang seperti biasa. Tapi malam itu, Ayah tak kunjung datang.
Namaku Fahmi. Usiaku sepuluh tahun. Orang-orang di kampung ini mengenal Ayah sebagai Pak Marbot, penjaga masjid yang tak pernah absen. Setiap subuh, Ayah sudah berada di masjid. Setiap malam, Ayah yang terakhir menutup pintu masjid. Tugasnya sederhana: menyapu lantai, menyalakan lampu, mengatur sajadah, dan memastikan semuanya bersih untuk jamaah yang datang.
Tapi Ayah punya satu kebiasaan yang selalu membuatku penasaran. Setiap malam, setelah Isya, Ayah tak langsung pulang. Dia menunggu hingga semua orang sepi, lalu membentangkan sajadah lusuh berwarna hijau tua di pojok masjid, tepat di bawah lampu kecil yang redup. Di sanalah Ayah shalat Tahajud. Sendirian. Dalam diam.
Aku sering mengintip dari jendela masjid yang terbuka. Melihat Ayah bersujud lama. Sangat lama. Kadang aku mendengar isak tangis pelan yang tertelan malam. Kadang punggung Ayah bergetar, seakan menahan sesuatu yang berat.
“Kenapa Ayah shalat sendirian di malam hari?” tanyaku suatu waktu. Ayah tersenyum. Senyum yang lelah tapi hangat. “Ini waktu terbaik untuk bicara sama Allah, Fahmi. Ketika semua orang tidur, hati jadi lebih tenang.”
“Ayah minta apa ke Allah?”
Ayah mengusap kepalaku pelan. “Ayah minta supaya Fahmi jadi anak sholeh. Supaya Fahmi bisa sekolah tinggi. Supaya Fahmi lebih baik dari Ayah.”
Aku tak mengerti waktu itu mengapa mata Ayah berkaca-kaca.
Lalu Ayah berkata dengan nada serius, sambil memegang bahuku, “Kalau suatu hari nanti Ayah mati, lipatkan sajadah ini, ya. Jangan lupa.”
Aku tertawa waktu itu. “Ayah enggak akan mati! Ayah masih muda!”
Tapi Ayah tak ikut tertawa. Dia hanya memelukku erat, seakan ingin menanamkan sesuatu yang sangat dalam di dadaku.
Malam itu hujan sangat deras. Angin melolong kencang, memukul atap rumah kami yang sudah bocor di sana-sini. Ibu meletakkan ember di beberapa sudut untuk menampung air yang menetes. Aku meringkuk di kasur tipis, mendengar gemuruh petir yang menggelegar.
“Ayah belum pulang, Bu?” tanyaku cemas.
Ibu mengintip ke luar jendela. Gerimis masih turun deras. “Mungkin masih di masjid. Biarlah, biar Ayah enggak kehujanan.”
Tapi aku tak bisa tidur. Sesuatu terasa aneh. Ayah biasanya pulang sebelum hujan terlalu deras. Aku menatap langit-langit rumah yang penuh dengan tambalan karton, mencoba menenangkan diri.
Pagi harinya, hujan sudah reda. Tapi yang datang bukan Ayah—melainkan Pak RT dan beberapa warga kampung dengan wajah pucat.
“Pak Marbot… wafat semalam,” kata Pak RT pelan, tangannya gemetar.
Dunia rasanya berhenti berputar.
Ibu langsung berlari ke masjid. Aku mengikutinya dengan kaki yang terasa berat, seakan terseret paksa oleh kenyataan yang tak ingin aku terima.
Ketika sampai di masjid, aku melihat kerumunan orang di dalam. Mereka berdiri melingkar, berbisik pelan dengan nada yang penuh duka. Aku menerobos masuk, dan di sanalah aku melihatnya.
Ayah.
Dia tergeletak di pojok masjid, di tempat yang biasa dia gunakan untuk shalat Tahajud. Tubuhnya dalam posisi sujud. Dahi masih menempel di sajadah hijau tua itu. Kedua tangannya terbuka lebar, seakan masih berdoa. Wajahnya tenang. Sangat tenang.
Tapi sajadah itu… sajadah itu basah.
Bukan hanya karena lembap dari hujan yang masuk lewat ventilasi yang bocor. Ada sesuatu yang lain. Ada bercak-bercak gelap yang menyebar dari bagian bawah tubuh Ayah. Bercak yang pelan-pelan aku sadari adalah darah.
“Kenapa ada darah?” bisikku gemetar.
Pak RT menghampiriku, tangannya menyentuh pundakku dengan lembut. “Ayahmu… sudah lama sakit, Fahmi. Dia punya penyakit dalam. Tapi dia tak pernah bilang ke siapa-siapa. Dia tetap menjalankan tugasnya sebagai marbot, tetap shalat Tahajud, sampai nafas terakhirnya.”
Aku menatap tubuh Ayah yang sudah dingin. Air mataku tumpah tanpa bisa kutahan.
“Dia wafat dalam keadaan sujud, Fahmi,” kata Pak Ustad yang ikut datang. Suaranya bergetar penuh haru. “Ini akhir yang sangat mulia. Husnul khatimah. Allah mencintainya.”
Tapi aku tak peduli dengan kata-kata itu. Aku hanya ingin Ayah bangun. Aku ingin dia tersenyum lagi. Aku ingin dia pulang dan mengusap kepalaku seperti biasa.
Setelah jenazah Ayah dimandikan dan dikafani, aku kembali ke masjid sendirian. Aku duduk di pojok tempat Ayah biasa shalat. Sajadah hijau tua itu masih terbentang di sana. Belum ada yang menyentuhnya.
Aku teringat pesan Ayah. “Kalau Ayah mati, lipatkan sajadah ini, ya.”
Dengan tangan gemetar, aku mencoba mengangkat sajadah itu. Tapi begitu jari-jariku menyentuhnya, aku merasakan sesuatu yang aneh. Sajadah itu kaku. Berat. Seakan ada beban yang tak kasat mata menahan.
Bercak darah yang sudah mengering membuat sebagian kain melekat erat di lantai. Aku mencoba menariknya perlahan, tapi sajadah itu tak mau dilipat. Semakin kucoba, semakin aku menyadari betapa banyak darah yang telah diserap oleh kain itu.
Ayah shalat di atas sajadah ini sambil menahan sakit.
Ayah bersujud di atas sajadah ini sambil menanggung luka yang tak pernah dia ceritakan.
Ayah menangis di atas sajadah ini, memohon kepada Allah untuk anak yang bahkan tak tahu bahwa ayahnya sedang sekarat.
Air mataku menetes ke sajadah itu, bercampur dengan darah yang sudah kering. Aku mencoba lagi melipatnya, tapi tanganku tak kuat. Bukan karena sajadah itu berat secara fisik tapi karena berat cerita yang tersimpan di dalamnya.
Aku menangis sejadi-jadinya di atas sajadah itu. Memeluknya erat, seakan memeluk Ayah yang sudah tak bisa memelukku lagi.
“Maafin Fahmi, Yah…” isakku. “Fahmi enggak tahu… Fahmi enggak tahu Ayah sakit…”
Hari-hari setelah pemakaman Ayah terasa hambar. Rumah kami sepi. Ibu bekerja lebih keras untuk menghidupi kami. Aku mencoba membantu sebisaku jualan koran, bantu-bantu tetangga, apa saja yang bisa kulakukan.
Tapi setiap malam, aku selalu kembali ke masjid. Aku duduk di pojok tempat Ayah biasa shalat. Sajadah hijau tua itu masih terbentang di sana, karena aku tak sanggup melipatnya. Aku biarkan sajadah itu tetap terbuka, seakan menunggu Ayah datang lagi untuk shalat.
Suatu malam, Pak Ustad datang dan duduk di sampingku.
“Kamu sering ke sini, ya?” tanyanya lembut.
Aku mengangguk.
“Kamu tahu, Fahmi, ayahmu itu orang yang luar biasa. Dia datang ke masjid ini hampir setiap hari selama sepuluh tahun. Tak peduli hujan atau panas. Tak peduli dia sakit atau sehat. Dia selalu bilang, ‘Kalau bukan saya yang jaga masjid ini, siapa lagi?’ Padahal dia tak digaji. Tugasnya cuma ikhlas karena Allah.”
Pak Ustad menatap sajadah itu dengan pandangan penuh hormat.
“Dan kamu tahu apa yang selalu dia doakan setiap Tahajud?” lanjutnya. “Dia selalu minta supaya kamu jadi anak yang sholeh. Supaya kamu bisa sekolah tinggi. Supaya kamu punya masa depan yang lebih baik dari dia. Itu yang selalu dia bisikkan dalam doanya. Aku pernah mendengarnya tanpa sengaja.”
Air mataku kembali mengalir.
“Fahmi,” kata Pak Ustad sambil mengusap kepalaku. “Ayahmu telah menunjukkan kepada kita semua apa arti ikhlas. Dia bekerja tanpa pamrih. Dia beribadah tanpa pamer. Dia memberikan segalanya untuk orang yang dia cintai, tanpa mengeluh. Dan Allah memberinya akhir yang mulia wafat dalam keadaan sujud, di rumah Allah. Itu hadiah terbesar yang bisa diterima seorang hamba.”
Aku menatap sajadah yang masih terbentang itu.
“Kenapa sajadah ini enggak bisa dilipat, Pak Ustad?” tanyaku pelan.
Pak Ustad tersenyum sedih. “Mungkin karena Allah ingin kita mengingat. Mengingat bahwa ada orang-orang yang beribadah dengan sunyi, yang berjuang tanpa terlihat, yang menangis tanpa terdengar. Sajadah ini adalah saksi bisu dari perjuangan ayahmu. Biarkan sajadah ini terbuka, Fahmi. Biar kita semua ingat.”
Bertahun-tahun berlalu. Aku tumbuh besar. Aku sekolah dengan beasiswa yang diberikan warga kampung yang tersentuh oleh kisah Ayah. Aku kuliah. Aku bekerja. Aku mencoba menjadi orang yang Ayah selalu doakan.
Tapi setiap kali aku pulang kampung, aku selalu mengunjungi masjid kecil itu. Sajadah hijau tua Ayah masih terbentang di pojok yang sama, dijaga oleh jamaah masjid sebagai kenangan. Bercak darah yang telah memudar, tapi cerita di baliknya tetap hidup.
Aku sering shalat di atas sajadah itu, mengikuti jejak Ayah. Dan setiap kali aku sujud, aku merasakan kehangatan yang aneh seakan Ayah masih ada di sana, memelukku, membimbingku, mendoakanku.
Sajadah itu tak pernah terlipat. Bukan karena aku tak mampu melipatnya, tapi karena aku sadar sajadah itu adalah pesan. Pesan bahwa ibadah yang paling mulia adalah ibadah yang sunyi, yang dilakukan tanpa ada yang melihat, tanpa ada yang memuji, hanya antara hamba dan Tuhannya.
Dan suatu hari nanti, ketika ajalku tiba, aku berharap bisa seperti Ayah wafat dalam keadaan sujud, di rumah Allah, dengan doa yang masih terngiang di bibir.
Karena itulah akhir terbaik yang bisa diminta seorang hamba.
Husnul khatimah.
“Dan hamba-hamba yang paling dicintai Allah adalah mereka yang beribadah dalam sunyi, yang tidak mencari pujian manusia, melainkan hanya ridha-Nya.”