Oleh : Muhammad Rizki
(Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam)
Dalam pengalaman saya menjalani dunia pertemanan, tidak ada konflik besar yang benar-benar melukai. Relasi berjalan wajar, baik di lingkungan sendiri maupun di luar. Barangkali karena saya tumbuh dan bersekolah di pondok pesantren—ruang sosialnya terbatas, tetapi justru tertata. Ada batas yang jelas, ada etika, dan ada jarak yang secara tak langsung mengajarkan kehati-hatian.
Namun dari dinamika itu, ada satu hal yang kerap menarik perhatian: gengsi, terutama pada teman-teman perempuan.
Gengsi sering kali dipersepsikan sebagai sikap negatif—penghalang komunikasi, penghambat kejujuran, bahkan sumber kesalahpahaman. Padahal, jika ditelaah lebih dalam, gengsi bukan sekadar sikap emosional. Ia adalah konstruksi sosial yang dibentuk oleh lingkungan, pendidikan, dan pengalaman hidup.
Erich Fromm pernah mengatakan bahwa “manusia takut akan kebebasan karena kebebasan menuntut tanggung jawab.” Dalam konteks ini, gengsi dapat dibaca sebagai bentuk ketakutan yang halus—takut disalahpahami, takut dinilai keliru, dan takut kehilangan harga diri. Maka gengsi hadir sebagai mekanisme pengaman, bukan sebagai bentuk kesombongan semata.
Di lingkungan pesantren, perempuan tumbuh dengan kesadaran untuk menjaga diri. Ekspresi perasaan dibatasi oleh norma, dan keberanian sering kali harus disaring oleh pertimbangan moral serta penilaian sosial. Dalam kondisi seperti ini, gengsi menjadi cara sunyi untuk bertahan. Sebuah bentuk kehati-hatian yang lahir dari tuntutan lingkungan.
Seperti yang pernah disampaikan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), “Yang paling penting dari manusia adalah martabatnya.” Gengsi, dalam banyak kasus, adalah upaya menjaga martabat itu. Maka tidak adil jika kita serta-merta menganggapnya sebagai penghalang relasi, tanpa memahami akar kemunculannya.
Masalahnya, gengsi kerap disalahpahami. Banyak orang ingin “menghilangkannya”, seolah gengsi adalah penyakit sosial yang harus diberantas. Padahal, usaha menghapus gengsi justru sering berujung pada pemaksaan: memaksa orang untuk terbuka sebelum ia merasa aman, atau menuntut kejujuran tanpa menyediakan ruang yang nyaman.
Di titik ini, kita perlu jujur: gengsi tidak bisa dihilangkan, tetapi bisa dilunakkan.
Pelunakan itu tidak terjadi lewat nasihat atau tekanan. Ia tumbuh dari rasa aman. Psikolog Carl Rogers menekankan bahwa penerimaan tanpa syarat adalah dasar dari hubungan yang sehat. Ketika seseorang merasa diterima apa adanya, tembok gengsi perlahan kehilangan fungsinya.
Dalam percakapan sehari-hari, muncul candaan yang terdengar ringan namun menyimpan makna serius: “Kalau gengsi sulit dihadapi, apakah lebih baik dinikahi saja?” Pertanyaan ini menggelitik, tetapi juga menyingkap persoalan mendasar. Menikah bukanlah solusi untuk mengubah karakter seseorang. Menikah adalah keputusan untuk menerima, bukan memperbaiki secara sepihak.
Seperti kata Kahlil Gibran, “Cinta tidak memiliki, juga tidak ingin dimiliki.” Relasi yang dewasa—baik pertemanan maupun pernikahan—tidak dibangun di atas keinginan menguasai sifat orang lain, melainkan pada kesediaan hidup berdampingan dengan perbedaan.
Pada akhirnya, pertemanan bukan tentang seberapa sering bertemu atau seberapa dekat jarak fisik, melainkan tentang seberapa lapang ruang batin yang kita sediakan untuk orang lain. Gengsi, dalam konteks ini, bukan penghalang mutlak, melainkan penanda bahwa setiap manusia membawa sejarah dan cara bertahan masing-masing.
Mungkin yang perlu kita ubah bukan orang lain, melainkan cara kita memahami mereka.