Oleh Bimma Al-Hafizh (Mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam, UIN Imam Bonjol Padang)
Indonesia adalah negara kaya raya dengan tanah yang subur, laut terbentang luas dengan kekayaan dan keindahannya, serta bumi yang penuh dengan harta karun. Ironisnya, bangsa ini seringkali tidak sepenuhnya merdeka karena kekayaan, justru sebaliknya, dijajah karena kaya. Sepanjang sejarah, kita telah menyaksikan bagaimana kolonialisme datang tidak hanya dengan bedil, senjata, dan kekerasan kepada pribumi saja, namun juga dengan tipu daya ekonomi dan politik mereka yang menjijikan. Selain itu, penjajahan menjadi lebih halus di era saat ini melalui investasi, kerja sama internasional, dan globalisasi.
“Berada di bawah ketiak asing” bukan semata-mata ungkapan belaka. Kenyataannya adalah bahwa tekanan dan kepentingan kapitalis dunia dan korporasi besar dunia sering menentukan kebijakan strategis negeri ini, bahkan nasib jutaan rakyat negeri ini. Indonesia tampaknya terjebak dalam lingkaran setan yang sulit diputuskan, mulai dari penguasaan tambang emas dan tembaga, pembelian senjata dan alat transportasi, hingga ketergantungan pada teknologi dan makanan impor.
Tulisan ini tidak bermaksud untuk menunjukkan pesimisme terhadap negeri ini, sebaliknya, tulisan ini mengajak orang untuk melihat ke luar dan berpikir kritis. Sudah waktunya kita mempertanyakan mengapa negara yang begitu makmur selalu menjadi korban? Siapa yang benar-benar mendapat manfaat? Selain itu, sampai kapan negara ini akan bersedia menggadaikan kemerdekaannya?
Tambang Terbaik Dunia
Di lansir dari laman Goodstats, 2 Agustus 2024, menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat 6/7 tembaga terbaik dunia. Produksi tembaga di Indonesia adalah salah satu investasi yang sangat menjanjikan. Dari tambang raksasa Grasberg di Papua hingga Batu Hijau di Sumbawa. Kabel listrik, kendaraan listrik, dan industri militer adalah contoh dari banyaknya nilai yang membutuhkan sumber penting dari kekayaan tembaga ini.
Namun, di balik angka produksi dan ekspor yang menggembirakan, sebagian besar pengelolaan dan nilai keuntungan masih dimiliki oleh negara asing. Mereka datang dengan tujuan investasi, membawa modal dan teknologi, tetapi mereka meninggalkan jejak ketergantungan yang mengakar kuat pada negeri ini. Orang Indonesia hanya menjadi penonton di negara mereka sendiri, menikmati sebagian kecil dari keuntungan besar yang sebenarnya milik mereka.
Setiap ton tembaga yang dikirim ke luar negeri seolah-olah menimbulkan paradoks, negara yang kaya tetapi tidak sepenuhnya berdaulat. Meskipun pemerintah senang sekali menggemborkan industrialisasi dan hilirisasi, justru smelter yang baru akan dibangun setelah bahan mentah diekspor begitu saja selama bertahun-tahun ini.
Pertanyaannya sederhana, tetapi menyedihkan. Apakah ekonomi Indonesia benar-benar mendapat manfaat dari kekayaannya sendiri, atau justru negara ini sedang berada di bawah ketiak negara asing yang mengontrol negara ini?
Indonesia Negara Agraria terkuat dan terbesar. Tanahnya subur, iklimnya ideal, dan kaya akan flora dan fauna. Negeri ini adalah salah satu pemasok utama dunia dengan perkebunan sawit, karet, kopi, dan rempah-rempah yang tumbuh di setiap desa. Indonesia selalu menjadi lumbung makanan dan komoditas strategis, bahkan menjadi alasan bagi negara-negara asing untuk menaklukkannya. Di sisi lain, kekuatan itu memiliki ironi yang sulit diabaikan, yakni masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, garam, gula, kedelai, bahkan beras.
Negara yang memiliki jutaan hektar lahan pertanian subur, namun kenyataannya masih tidak mampu berdikari. Kesalahan kebijakan, dominasi kepentingan asing, dan dukungan yang lemah untuk kaum petani adalah jawabannya. Petani terjepit oleh biaya produksi yang tinggi, lahan produktif beralih fungsi menjadi properti yang dikuasai oleh segelintir borjuis negeri, dan pasar yang dipenuhi dengan produk impor yang berhasil mengelabui rakyat negeri ini dengan hasil bumi lokalnya.
Karena kedaulatan pangannya tidak sepenuhnya dipegang sendiri, negara agraria terkuat ini akhirnya berjalan di atas kaki yang rapuh. Indonesia mudah dikendalikan oleh kepentingan luar karena ketergantungannya pada impor menjadikan Indonesia terjebak dalam lingkaran setan yang melemahkan.
Revolusi adalah jalan satu-satunya. Kompromi yang merugikan rakyat dan negara harus dihentikan. Saatnya mengambil tindakan yang lebih tegas. “Tuan rumah tidak akan berunding dengan maling rumahnya “ Kata yang pernah diucapkan oleh seorang Tan Malaka, tokoh revolusioner Minangkabau yang seakan-akan masih relevan sampai kini.
Indonesia tidak bisa lagi bersikap lemah dan tunduk kepada kekuatan asing. Perjuangan dengan bambu runcing yang menumpahkan darah dan keringat, lebih bermartabat dibandingkan harus tunduk kepada kekuatan negara asing yang mau mencengkeram kedaulatan negeri ini.
Revolusi adalah jalan terakhir bagi semua kerugian ini, persatuan rakyat dari seluruh elemen kemasyarakatan, terkhusus kepada kaum pekerja, adalah senjata yang akan mensukseskan revolusi ini.
Workers of the World, Unite! (Karl Marx)
“Kaum pekerja di seluruh dunia, bersatulah” seakan-akan menjadi pecutan untuk membangkitkan semangat mempersatukan seluruh rakyat yang menjadi ujung tombak perjuangan. Dengan revolusi, yang tertumpah di dalamnya darah dan keringat, tidak akan ada yang hilang dari kita kecuali belenggu ketertindasan kita.