Suarakampus.com– Pengelolaan repository perguruan tinggi dinilai belum sepenuhnya optimal, padahal sistem ini berperan penting dalam menjaga integritas akademik dan reputasi institusi di era digital. Isu tersebut mengemuka dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Repository yang berlangsung di Institut Teknologi dan Bisnis Haji Agus Salim (ITB HAS) Bukittinggi, Jumat (13/02).
Dosen Luar Biasa UIN IB Padang, Nasrul Makdis, menjelaskan repository bukan sekadar ruang digital. “Melainkan instrumen transparansi dan kredibilitas akademik,” jelasnya.
Nasrul melanjutkan, jika karya ilmiah tidak terpublikasi dan terdokumentasi dengan baik, maka kontribusi akademik kampus sulit diukur. “Sehingga cenderung susah untuk diverifikasi,” lanjutnya.
Pustakawan tersebut menyoroti bahwa repository berpengaruh terhadap visibilitas institusi. “Termasuk dalam peringkat global seperti Webometrics yang menjadikan keterbukaan akses publik sebagai salah satu indikator utama,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan repository secara optimal. “Minimnya unggahan dan lemahnya tata kelola akan berdampak pada rendahnya eksposur karya ilmiah di tingkat internasional,” tuturnya.
Menurutnya, persoalan repository juga berkaitan dengan integritas akademik. “Tanpa sistem penyimpanan dan publikasi yang tepat, potensi plagiarisme karya lebih sulit terdeteksi,” katanya saat memaparkan materi.
Ia menyebutkan, repository juga berfungsi sebagai jejak digital resmi. “Melalui hal tersebut, hak cipta dan orisinalitas karya akan terlindungi,” pungkasnya.
Sementara itu, Pustakawan Ahli Pertama, Maizi Latifa mengungkapkan tantangan utama bukan pada ketersediaan teknologi. “Komitmen kebijakan institusi berada di puncaknya,” ungkapnya.
Pustakawan ini menyebutkan, banyak sekali kampus yang memiliki sistem, tetapi belum optimal. “Hal ini terlihat dari standarisasi metadata, kewajiban unggah mandiri (self-archiving), dan kontrol kualitas dokumen,” sebutnya dalam Bimtek.
Meizi menjelaskan, platform seperti DSpace dan EPrints memungkinkan integrasi dengan mesin pencari akademik seperti Google Scholar. “Namun, tanpa pengelolaan yang konsisten dan pengawasan berkelanjutan, sistem tidak akan memberikan dampak signifikan,” jelasnya.
Ia menambahkan, fenomena ini menunjukkan repository bukan sekadar teknis perpustakaan. “Melainkan bagian dari tata kelola akademik dan strategi reputasi kampus,” tuturnya.
Terakhir, ia berharap agar kampus tidak hanya meningkatkan jumlah unggahan karya ilmiah. “Tetapi juga membangun sistem pengelolaan informasi yang transparan, terstandar, dan berorientasi pada integritas akademik jangka panjang,” tutupnya. (Fau)
Wartawan : Aisyah Nurlaili Arinda (Mg)
Related Posts
Panitia Teknis PBAK Ambil Kebijakan untuk Ketertiban Mahasiswa Baru
Suarakampus.com- Panitia Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2025, melakukan pengaturan teknis terkait salat dan makan. Kebijakan ini…
Fajri Hidayat Paparkan Progres Pembangunan Gedung Student Center UIN IB
Suarakampus.com- Progres pembangunan Student Center Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol (IB) Padang sudah mulai terlihat. Hal ini…