Oleh : Sofia Aulia Purnama
(Mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam)
Aku tipe orang yang bisa sangat heboh jika bersama orang-orang terdekat. Bisa tertawa keras, bicara tanpa rem, kadang bahkan terasa berlebihan. Tapi dengan orang lain, aku tetap ramah tetap bisa bergaul hanya saja, tidak pernah benar-benar sedekat itu. Ada batas tak terlihat yang selalu terjaga dengan sendirinya.
Namun dulu, aku pernah hidup tanpa batas itu.
Tempatnya bernama pondok pesantren.
Di sana aku bertemu banyak teman dengan kepribadian yang berbeda-beda. Ada yang cerewet, ada yang pendiam, ada yang keras, ada yang lembut. Tapi ada satu kesamaan yang membuat kami terasa seperti keluarga: ketulusan. Kami tumbuh bersama, lelah bersama, tertawa bersama, bahkan menangis bersama.
Salah satu dari mereka pernah merawatku saat aku sakit. Bukan sekadar bertanya, tapi benar-benar hadir. Menemaniku, membawakan obat, memastikan aku makan, menungguku sampai terlelap. Ia tak pernah meminta balasan, dan mungkin tak pernah tahu betapa dalam kebaikannya tinggal di ingatanku.
Waktu terus berjalan.
Hari kelulusan datang.
Dan seperti semua cerita, kami pun berjalan ke arah hidup masing-masing.
Awalnya aku pikir, jarak tidak akan mengubah apa pun. Tapi ternyata, waktu pelan-pelan membuat segalanya berbeda. Pesan menjadi jarang. Percakapan terasa kikuk. Bukan karena kami tidak peduli, hanya saja hidup membawa kami ke ritme yang berbeda.
Aku tetap punya teman di luar sana. Tetap bisa tertawa, tetap bisa bercerita. Tapi rasanya tidak pernah sama. Tidak sedalam di pondok. Tidak setenang di pondok. Seolah sebagian diriku hanya benar-benar hidup di sana.
Lalu suatu hari, sebuah undangan datang.
Seorang teman pondok menikah. Hatiku langsung dipenuhi rasa rindu, tapi juga ragu. Takut canggung. Takut suasana berubah. Takut kami sudah terlalu jauh berkembang masing-masing.
Sampai sebuah pesan masuk ke ponselku.
Dari teman pertamaku. Sifatnya sejak dulu tak banyak berubah sedikit ramai, sedikit usil, tapi hangat. Ia mengajakku pergi bersama. Katanya, biar tidak kikuk sendirian.
Aku mengiyakan. Dan ternyata, aku tidak salah.
Pertemuan itu terasa begitu alami. Tidak ada jarak. Tidak ada basa-basi kaku. Kami langsung mengalir dalam cerita, tawa, dan kenangan lama yang tiba-tiba hidup kembali. Lalu datang teman keduaku lebih pendiam, lembut, tapi kehadirannya selalu menenangkan.
Kami bertiga. Duduk bersama di acara pernikahan itu, dan untuk pertama kalinya setelah lama, aku merasa benar-benar menjadi diriku sendiri. Tidak perlu menyesuaikan diri terlalu banyak. Tidak perlu menjaga topeng.
Dari obrolan yang awalnya santai, tiba-tiba muncul keinginan yang tak direncanakan:
mampir ke pondok.
Awalnya hanya sekadar lewat. Tapi sambutan yang kami terima begitu hangat. Pembina menyapa kami satu per satu, menanyakan kabar, lalu mengajak kami menginap di pondok.
Kami bertiga saling berpandangan.
Kami ingin… tapi kami datang tanpa persiapan apa pun.
Akhirnya kami sepakat untuk pulang dulu ke rumahku.
Dan malam itu, kedua temanku ikut menginap di rumahku.
Sudah lama kami tidak sedekat itu. Kami duduk berdampingan, bercerita panjang tentang hidup masing-masing, tentang keresahan yang tak pernah sempat dituliskan lewat pesan singkat. Kadang tertawa, kadang hening, tapi semuanya terasa nyaman. Tidak ada canggung. Tidak ada jarak. Malam itu hangat. Sederhana, tapi penuh.
Keesokan harinya, kami bertiga berangkat bersama menuju pondok. Begitu langkahku melewati gerbang itu, dadaku langsung dipenuhi perasaan yang sulit dijelaskan. Suasananya masih sama. Aromanya masih sama. Ketentramannya masih sama. Seperti waktu tidak pernah benar-benar bergerak.
Setiap sudut membawa kenangan. Setiap langkah seperti mengulang masa lalu. Aku melihat asrama, halaman, ruang-ruang kecil yang dulu menjadi saksi tumbuhku. Dan tanpa sadar, aku tersenyum sendiri.
Aku merasa… pulang.
Kami disambut adik-adik kelas. Pembina menyambut dengan mata yang hangat. Kami duduk bersama, berbagi cerita, berbagi pengalaman hidup. Dari sore hingga malam, kami kembali menjalani suasana pondok: kebersamaan, tawa kecil, kegiatan, dan keheningan yang justru menenangkan.
Di sana aku sadar sesuatu.
Aku tidak pernah benar-benar kehilangan arah.
Aku hanya lupa ke mana harus kembali.
Pondok itu bukan sekadar tempat.
Ia adalah bagian dari diriku.
Tempat aku pernah menjadi versi paling jujur dari diriku sendiri.
Dan saat malam turun perlahan, aku berdiri di halaman itu sambil menatap langit.
Dalam hati, aku berbisik pelan:
“Aku kembali.”
Bukan hanya secara fisik.
Tapi juga secara batin.
Karena ternyata, kembali pulang bukan berarti kembali tinggal.
Ia adalah tentang menemukan lagi bagian diri yang sempat hilang.
Tentang mengingat siapa diri kita sebenarnya.
Tentang menyadari bahwa sejauh apa pun kita berjalan, selalu ada tempat yang tak pernah menutup pintunya.
Dan pondok itu…
akan selalu menjadi salah satu tempat itu.