Suarakampus.com– Senat Mahasiswa (SEMA) Universitas Islam Negeri Imam Bonjol (UIN IB) Padang menggelar forum bedah visi dan misi pasangan calon kepemimpinan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) U periode 2026 di Gedung J, Jumat (20/02). Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi setiap pasangan calon untuk memaparkan gagasan, program, serta arah kepemimpinan yang ditawarkan kepada mahasiswa.
Calon Presiden Mahasiswa nomor urut 02, Hendrix, menyampaikan keikutsertaannya dalam kontestasi ini berangkat dari pengalaman organisasi yang telah dijalaninya. “Sebelumnya saya diamanahkan sebagai Kepala Departemen atau Menteri Pendidikan dan Kesenian DEMA U, sehingga sedikit banyak sudah mengetahui dinamika di tingkat universitas maupun jurusan,” ujarnya.
Ia mengaku pencalonannya dilandasi niat pribadi untuk membenahi sejumlah hal yang dinilai belum maksimal pada kepengurusan sebelumnya. “Ada beberapa hal yang belum dimaksimalkan oleh DEMA U kemarin dan itu yang ingin saya benahi di kepengurusan berikutnya,” katanya.
Menurutnya, pencalonan tersebut bukan semata soal momentum, melainkan kesiapan diri. “Kalau kita merasa siap, mampu, dan sanggup, artinya kita juga siap menderita dan mengambil peran di dalamnya, di situlah momentum yang pas,” jelasnya.
Hendrix menuturkan keputusan maju sebagai calon presiden mahasiswa telah melalui diskusi panjang bersama rekan-rekannya. “Kami bermusyawarah cukup lama hingga akhirnya diputuskan untuk mengambil langkah ini,” tuturnya.
Terkait pengalaman berorganisasi, ia menyerahkan penilaian sepenuhnya kepada mahasiswa. “Saya tidak ingin berbangga diri, biarlah mahasiswa yang menilai,” tegasnya.
Dalam forum tersebut, Paslon 02 mengusung visi dan misi sebagai berikut:
Visi
Terwujudnya mahasiswa Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang yang progresif dan berintegritas melalui harmonisasi kecerdasan intelektual, kreativitas tanpa batas, dan kepedulian sosial yang berlandaskan nilai- nilai ke islaman.
Misi
Hendrix menjelaskan konsep besar yang ditawarkan dirangkum dalam program Tri Cakra yang selaras dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Cendikia berfokus pada penguatan budaya intelektual, karya mendorong inovasi dan kreativitas, sedangkan Bakti menekankan kontribusi nyata,” paparnya.
Ia menyebut seluruh program disusun berdasarkan pemetaan persoalan kampus dan kesiapan tim. “Untuk keunggulan program, biarlah mahasiswa yang menilai,” sebutnya.
Terkait kesiapan menghadapi forum bedah visi misi, ia mengaku telah melakukan persiapan secara matang. “Kami berlatih dan berdiskusi panjang untuk memantapkan konsep, strategi, dan pembagian peran,” ungkapnya.
Ia menegaskan pihaknya tidak menjanjikan perubahan instan. “Kami menjanjikan keseriusan, komitmen, dan keberanian untuk berproses menuju perubahan,” tutupnya. (Fau)
Wartawan : Zahra Mustika