Oleh : Delia Putri
(Mahasiswi Fakultas Syariah UIN Imam Bonjol Padang)
Langkah seorang perempuan terlihat menggebu-gebu di tangga kampus. di tangannya ada tumpukan kertas yang merupakan revisiannya. Berbekal sebuah pesan bertuliskan “saya ada di kampus” dari dosen pembimbingnya, Nala bahkan tak sempat memeriksa dirinya di cermin. Namun, ya sudahlah. Yang penting dapat ACC dari beliau.
Sampai di depan kantor dosen, ia memeriksa ponselnya, sembari berdoa agar sang dosen tak lagi membatalkan pertemuan mereka dengan berbagai macam alasan, seperti yang ia lihat di sebuah akun TikTok. Namun, sebuah pesan dari dosen pembimbing masuk ke ponselnya, membuatnya langsung terduduk
“Saya sudah nunggu kamu selama sepuluh menit, dan kamu tidak datang.” Pesan itu masuk dua menit yang lalu, saat ia masih berlari menelusuri lorong lantai dua. Dengan napas yang masih tersengal-sengal, ia membalas
“Maaf pak, saya sudah sampai di ruangan bapak.” Tak lupa dengan emoji keramat khas mahasiswa. Ia menunggu dengan rasa cemas dan harap yang bercampur. Berharap sang dosen hanya ke kamar mandi, atau sekedar membeli minuman agar beliau merasa lebih rileks saat memeriksa revisi skripsinya. Namun, harapannya kembali hancur saat pesan dari beliau masuk ke ponselnya.
“Saya sudah pulang. Pertemuan selanjutnya akan saya beritahu nanti.” Nanti … Entah keberapa kalinya ia menerima pesan yang serupa. Pesan datang tiba-tiba, ia datang, dan dosen tersebut sudah pergi dengan pesan “pertemuan selanjutnya akan saya beritahu nanti.” Sudah hampir dua bulan kejadian ini terus berlangsung.
Ia menyandarkan dirinya ke dinding, menghapus air matanya yang sudah jatuh tanpa perintahnya, lalu melangkah pergi dari tempat tersebut.
Sepanjang perjalanan ia keluar dari kawasan kampus, ia melihat para mahasiswa yang sedang mengobrol dengan temannya. Ia tersenyum, menyembunyikan rasa lelahnya. Ia membelokkan arahnya menuju sebuah warung. Ia terlalu semangat untuk revisi hingga lupa untuk mengisi perutnya.
“Mang, ketoprak satu. Jangan pedas ya, pak.” Pria paruh baya tersebut membalas
“Siap neng. Ada yang lain?” Nala hanya menggeleng. Hanya begitu, dan Nala kemudian duduk di bangku yang kosong.
Warung tersebut sedikit sepi membuat Nala menjadi lebih tenang. Ia menyalakan ponselnya dan membuka aplikasi Instagram. Terlihat beberapa postingan dari beberapa teman seangkatannya. Ada yang telah diterima kerja, yang sedang merayakan anniversary pernikahan, atau yang sedang berlibur ke suatu tempat, sementara dirinya masih mati-matian berusaha untuk mendapat persetujuan dari dosennya.
Hela napas Nala terdengar di telinganya. Hatinya mulai bertanya-tanya
“Kok gini banget ya?”
“Kok skripsi gue belum kelar?”
“Kok gue belum wisuda?”
Di tengah tanda tanya yang menumpuk di kepala, sang tukang ketoprak itu datang dengan sebuah nampan berisi pesanannya. Ada yang aneh, ia tak memesan es teh. Nala ingin memberi tahu bapak tersebut, namun akhirnya memilih urung dan menikmati apa yang telah ia dapatkan, karena ia terlalu malas untuk memanggil bapak itu. Ia akan membayar es teh itu nanti.
Di sela-sela acara makannya, seekor kucing berwarna oren terlihat di bawah mejanya. Kucing itu hanya diam, tak ribut seperti yang biasanya dicapkan kepada kucing berwarna oren, dan kemudian … Ia naik ke pangkuan Nala. Nala terdiam, bingung harus bagaimana, karena ia tak yakin kucing itu akan menyukai ketoprak yang ia makan.
“Mau juga, Cing?” tanyanya pelan. Kucing itu tak menjawab, namun merebahkan tubuhnya ke pangkuannya. Nala hanya tersenyum kecil melihat perlakuan hewan berbulu itu, tangan kirinya bergerak mengelus kucing tersebut, sementara tangan kanannya sibuk dengan sendok makannya.
Selesai makan, Nala dengan pelan memindahkan kucing orange yang ternyata telah terlelap di pangkuannya, dan menghampiri penjual ketoprak yang sedang duduk.
“Berapa tadi pak?”
“Gak usah dibayar neng. Gak apa-apa.” Nala sedikit terkejut. Masalahnya, ia juga meminum es teh yang tadi disajikan oleh bapak itu
“Jangan gitu dong pak,” pria tersebut tersenyum,
“Gak apa-apa, neng. Tadi saya liat kamu lagi sedih. Mudah-mudahan, skripsinya dipermudah ya neng.” Nala melirik revisian yang ada di tangan. Air matanya kembali berkumpul, namun kali ini bukan rasa sedih, namun rasa haru yang berkumpul di hatinya.
“Makasih ya pak.” Ia sedikit menunduk kepalanya sebagai bentuk terima kasihnya. Nala pergi dari sana, dengan hati yang sedikit lebih lega.
“Mungkin dosennya memang buru-buru. Makanya gak sempat ketemu lama-lama.” Biasanya, kalimat itu keluar karena paksaan dari pikirannya untuk tetap berpikir positif, namun kini, kalimat itu muncul dengan sendirinya, bukan lagi dengan paksaan untuk menerima keadaan.