Oleh: Alifah Syukron
(Mahasiswi Jurusan Pendidikan Agama Islam)
Lazuardi itu melilit mahkota kepalamu dengan kaku
Menahan badai rambut yang meronta ingin lepas.
Kau adalah teka-teki yang dibungkus kain langit
Dingin dan tak tersentuh seperti pualam di dasar laut.
Warna biru itu mencekik lehermu dengan lembut
Menyembunyikan denyut nadi yang berpacu liar.
Di balik lipatan yang rapi itu tersimpan rahasia
Tentang doa-doa yang gosong terbakar nafsu sendiri.
Sepasang matamu adalah telaga hitam yang pekat
Tempat segala cahaya karam tanpa sempat meminta tolong.
Aku berdiri di tepiannya dengan lutut yang gemetar
Menunggu kau menjatuhkan sedikit saja sisa belas kasih.
Jilbab itu adalah tirai suci yang memisahkan kita
Antara dosa yang merayap dan ibadah yang kau jaga.
Namun wangi tubuhmu menembus serat-serat benang
Menguar seperti dupa di ruang pengakuan dosa yang gelap.
Ada getar yang kau sembunyikan di balik dagu
Saat angin nakal mencoba menyingkap sedikit rahasia.
Kau tetap diam dengan bibir yang terkunci rapat
Menelan bulat-bulat gairah yang meletup dalam diam.
Biarkan aku binasa dalam biru yang kau kenakan
Menjadi tumbal bagi kesucian yang kau agungkan.
Sebab bagiku kau adalah neraka yang paling indah
Yang terbungkus kain biru dan aroma surga yang purba.