Oleh : Haida Putri Lubis
(Mahasiswi Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam)
Dulu, aku mengenalmu
Seperti seseorang mengenal jalan pulang
Penuh keyakinan
Tanpa rasa takut tersesat.
Namamu tinggal di dadaku
Lebih lama dari detak jantungku sendiri
Setiap rindu yang datang
Kusembunyikan dalam doa
Berharap Tuhan menjaga hatimu
Seperti aku menjaganya dalam diam.
Aku mencintaimu
Dengan cara yang mungkin terlalu dalam
Cara yang membuatku lupa
Bahwa manusia bisa berubah
Bahwa waktu bisa merenggut
Hal-hal yang dulu terasa abadi.
Kita pernah begitu dekat
Sampai dunia terasa kecil.
Tawa kita saling menemukan
Mata kita saling memahami
Dan diam pun terasa cukup.
Namun waktu…
Diam-diam menjadi pencuri.
Ia mengambil perhatianmu sedikit demi sedikit
Menghapus hangat dari suaramu
Dan mengganti tatapanmu
Dengan jarak yang tak bisa kugapai lagi.
Yang paling menyakitkan
Bukan karena kau pergi.
Tetapi karena kau berubah
Menjadi seseorang yang
Tak lagi mengenalku di hatinya.
Seakan semua yang pernah kita rawat
hanya mimpi yang singgah semalam.
Kadang aku bertanya pada diriku sendiri,
apakah kau pernah benar-benar mencintaiku
atau aku hanya tempat singgah
saat hatimu lelah berjalan.
Kini aku berdiri sendiri
di antara kenangan yang masih hidup
Sementara kau sudah jauh
Bersama waktu yang menelan semuanya.
Dan aku akhirnya belajar
Bahwa ada cinta
Yang tidak mati karena kebencian
Tidak hilang karena perpisahan
Melainkan perlahan
Hancur dalam diam
Ketika seseorang yang dulu sangat mencintaimu
Berubah menjadi orang asing
Di hidupmu sendiri.