Oleh: Sarah Fadhilla
(Mahasiswi Tadris Bahasa Inggris)
Sebuah nisan kubur digali oleh bisu riwayat,
Telaga nestapa lebih dalam dari lenguh rindu yang lunglai.
Kau adalah aksara yang menari di kidung asmara,
Sedang aku hanya abu yang merindu purnama.
Silsilahmu terukir pada benang sutra dan singgasana,
Sedang namaku, hanya luka usang yang terukir di tanah sengketa.
Kita adalah irama yang dipaksa berpaling nada,
Oleh intan, takhta, dan hampa semesta yang berbeda.
Semesta mengeja kita dari kejauhan yang sayu,
Berbisik, “Mawar takkan mekar di belukar yang layu.”
Bahwa kumbang hanya lekat pada sari, bukan pada sampah,
Bahwa cermin retak, tak layak untuk berkaca.
Tapi, bukankah kasta hanyalah jelmaan nama,
Rangkaian kata yang memisah suara puja?
Siapa pemberi hak untuk menghakimi binar di mata?
Bukankah darah kita serupa, merahnya sama,
Saat terluka oleh asmara?