Menjadi Alamat Bagi Pulangmu

Ilustrasi seorang perempuan di depan rumah, menggambarkan sebagai tempat pulang seseorang. Sumber: Najwalin Syofura.

Oleh : Verlandi Putra
(Mahasiswa TBI UIN IB Padang)

Di hadapan cermin kutata rapi lipatan doa-doa,
menyisir setiap cemas agar tak nampak di depan matamu.
Aku sedang belajar merias jiwa
Menyiapkan sebaik-baiknya tempat bagi kepalamu bersandar
Sebelum kau kelelahan menghadapi bisingnya dunia.

Bukan perihal siapa yang paling gagah membusungkan dada
Tapi tentang siapa yang paling tabah menekur sajadah.
Mengeja namamu di sela-sela letih yang memahat garis wajah
Menjadikan rindu sebagai satu-satunya penawar
Bagi setiap luka yang tak sempat terucap oleh lidah.

Aku ingin menjadi atap yang tak keberatan didekap gigil hujan
Menjadi lantai yang khatam mendekap langkah keresahan.
Serta menjadi pintu yang engselnya tak pernah berkarat oleh benci
Selalu terbuka setiap kali kau butuh jalan pulang
menuju ruang terdalam di dalam diri sendiri.

Bagiku, kau bukanlah sekadar titik henti di ujung jalan
Namun kompas yang membuat langkahku tak kehilangan arah.
Meski kaki ini mulai gemetar dipahat beban yang kian berat
Cukuplah ingatan tentang matamu menjadi alasan
Agar aku tak pernah sekali pun memilih menyerah.

Maka biarkan aku menjadi rumah yang paling mengenal letihmu
Yang mencintai kurangmu seolah itu adalah keajaiban yang syahdu.
Di sini, di balik dadaku, kau tak perlu lagi berpura-pura
Cukuplah menjadi ratu yang merajai seluruh damai
Yang tersisa di sisa usia yang kita punya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Sudah Cukup Ini Saja Buatku Kecewa

Next Post

Pendidikan Islam Sakit Bukan Karena Oknum

Related Posts

Sajak Kebingungan

Oleh : Fachri Hamzah Kita terlena kenyamanan dan kesenangan, serta huru-hara yang menyengsarakan. Kita menutup mata untuk penindasan,…
Selengkapnya