Suarakampus.com– Sutradara Teater Salapan, Widia Husein, hadirkan pementasan dekontruksi legenda Bujang Sembilan dengan melalui teater kontemporer berbasis silat dan randai. Pertunjukan ini menyoroti kisah cinta serta tokoh datuk melalui simbol gerak yang merepresentasikan kekuasaan dalam tradisi Minangkabau, Rabu (3/6).
Widia Husein yang juga guru Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 8 Padang menjelaskan, karya ini berangkat dari legenda Bujang Sembilan yang kemudian ditafsir ulang dari sudut pandang berbeda. “Kami mendekonstruksi cerita ini dengan fokus pada relasi tokoh dan simbol-simbol kekuasaan,” jelasnya.
Sutradara ini menyebutkan,, tokoh yang dihadirkan dalam pementasan antara lain kakak Bujang Sembilan, Siti Rasani, Logiran, serta datuk yang tampil sebagai pembuka dan penutup pertunjukan. “Para tokoh tersebut menyampaikan makna melalui gerak, dialog, dan simbol panggung,” sebutnya saat didatangi wartawan suarakampus.com.
Baginya, penggunaan kostum yang didominasi warna hitam dan putih merupakan simbol dualitas manusia. “Putih melambangkan kesucian dan nurani, sedangkan hitam menggambarkan sisi negatif manusia,” katanya di Halaman Ladang Tari Nan Jombang.
Ia melanjutkan, batik lilitan pinggang juga digunakan sebagai simbol identitas Minangkabau yang berkaitan dengan silat dan randai. “Itu bukan batik jawa tapi deta minang,” lanjutnya.
Widia berharap pertunjukan ini dapat dimaknai beragam oleh penonton serta menjadi ruang pembelajaran bagi pelaku seni. “Semoga proses berkesenian ini terus berlanjut dan memberi hikmah dari setiap pertunjukan,” pungkasnya. (rar)
Wartawan : Putri Wahyuni (Mg)