Habis Gelap Tambah Gelap Mengaung di DPRD Sumbar

Sumber : Zahra Mustika/ Suarakampus.com

Suarakampus.com– “Habis Gelap Tambah Gelap” merupakan tajuk kamisan yang digelar oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang sebagai bentuk refleksi atas situasi nasional yang dinilai kian memburuk. Massa mengantongi lima isu utama, Kamis (11/06).

Mitra Oktavia mengungkapakan, kondisi hari ini bukan sekadar wacana politik. “Negara belum maksimal menjamin kesejahteraan ekonomi masyarakat di tengah kenaikan nilai dolar dan harga bahan bakar minyak (BBM),” ungkapnya.

Dari halaman Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumatra Barat, Mitra menyebutkan, dampak kenaikan BBM bukan hanya ke pengguna BBM non-subsidi, tetapi juga ke rantai distribusi sandang, pangan, dan papan,” sebutnya.

Menurutnya, pengelolaan anggaran negara, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu diawasi secara transparan. “Pemerintah seharusnya mampu memprioritaskan kebijakan yang lebih langsung menyentuh kebutuhan masyarakat,” imbuh wanita ini.

Selain isu ekonomi, ia memaparkan, pasca pengesahan Undang-Undang TNI, terdapat fenomena pejabat militer yang merangkap jabatan di ranah sipil.”Ranah perkebunan, koperasi, dan sektor sipil lainnya seharusnya dikelola secara sipil, namun berbeda hari ini,” paparnya usai memberi orasi.

Melanjutkan jawabannya, bencana ekologis turut diangkat, termasuk dorongan masyarakat sipil di Sumatera Barat dan Papua untuk menuntut pertanggungjawaban pejabat atas bencana ekologis dan kebijakan publik yang dinilai bermasalah. “Sumatera belum pulih dan Papua terus disakiti,” lanjutnya.

Mitra menambahkan, langkah konkret yang harus dilakukan pemerintah adalah mendengarkan suara masyarakat di akar rumput. “Apa yang kita lakukan hari ini adalah memastikan suara di tapak terdengar,” tambahnya.

Ia menjelaskan, Tajuk “Habis Gelap Tambah Gelap” dipilih sebagai gambaran kondisi Indonesia saat ini. “Masyarakat seolah berada dalam keadaan terang, padahal tengah menghadapi krisis lingkungan, tekanan ekonomi, dan maraknya praktik korupsi,” jelasnya kepada wartawan suarakampus.com

Menutup jawabannya, ia mengutip penyair Wiji Thukul, “Usul ditolak tanpa ditimbang, suara tidak didengar, maka hanya ada satu kata: lawan,” pungkasnya di akhir wawancara. (Fau)

Wartawan : Zahra Mustika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Antusiasme Tinggi, Donor Darah KSR PMI UIN IB Lampaui Target

Next Post

Orator Aksi Kamisan Kritik Kebijakan Pemerintah dan Dugaan Korupsi

Related Posts