Tanpa Almamater, Massa Aksi Mahasiswa Padang Gunakan Pita Penanda

Massa aksi terlihat membentuk lingkaran di Tugu Adipura Kota Padang tanpa mengenakan almamater. Sumber : Suarakampus.com

Suarakampus.com – Massa aksi mahasiswa menggunakan pita sebagai penanda kelompok atau fakultas saat menggelar aksi di Jalan Khatib Sulaiman No. 87, Kota Padang, Selasa (27/10).

Presiden BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Andalas (Unand), Shelvy Anggraini menjelaskan, penggunaan pita disepakati peserta untuk memudahkan identifikasi kelompok selama aksi.

“Sebagai gantinya, massa menggunakan pita sebagai penanda simpul atau fakultas,” jelas Shelvy.

Menurutnya, penanda membantu peserta mengenali kelompok, terutama apabila mereka terpisah selama aksi berlangsung.

“Penggunaan pita juga berkaitan dengan koordinasi dan tanggung jawab pimpinan organisasi terhadap anggota yang mengikuti aksi,” terangnya.

Aksi Tak Bawa Nama Satu Organisasi
Shelvy menegaskan, aksi unjuk rasa tidak mengatasnamakan satu organisasi tertentu.

“Gerakan ini melibatkan berbagai elemen, termasuk mahasiswa, masyarakat sipil, dan komunitas di Kota Padang,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, keterlibatan berbagai pihak tersebut diupayakan melalui proses konsolidasi dengan mengundang sejumlah organisasi mahasiswa. Dalam pertemuan tersebut, perwakilan Aliansi BEM SISB turut hadir dan menyambut baik undangan yang disampaikan.

Shelvy menyampaikan, pihaknya sempat menawarkan agar aksi dilaksanakan bersama pada hari yang telah direncanakan. Tawaran tersebut mempertimbangkan momentum Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober.

“Namun, kita belum mencapai kesepakatan mengenai waktu pelaksanaan aksi. Bagi kami, lebih cepat, lebih baik,” sampainya.

Ia menuturkan, keputusan untuk tetap menggelar aksi sesuai jadwal awal bukan semata-mata untuk memanfaatkan momentum Hari Sumpah Pemuda.

“Aksi perlu segera dilaksanakan tanpa harus menunggu agenda bersama yang belum mencapai kesepakatan,” tuturnya.

Dua Kali Konsolidasi sebelum Aksi
Dalam proses persiapan, Shelvy menjelaskan, undangan konsolidasi disebarkan melalui media sosial lembaga masing-masing.

“Selain itu, saya juga menghubungi secara langsung para gubernur mahasiswa dan pimpinan organisasi di lingkungan kampus,” jelasnya.

Upaya dilakukan agar lebih banyak organisasi mahasiswa mengetahui rencana konsolidasi dan berkesempatan untuk terlibat.

“Meski demikian, informasi yang disebarkan melalui media sosial belum tentu menjangkau semua pihak,” paparnya.

Dari lingkungan Universitas Andalas (Unand), Shelvy menyebut, sekitar enam hingga tujuh fakultas hadir dalam konsolidasi.

“Jujur senang karena hari ini ada banyak yang turun,” katanya.

Sebelum aksi dilaksanakan, konsolidasi telah dilakukan dua kali, yakni pada Jumat dan Minggu di pekan sebelumnya. Informasi kegiatan juga telah diunggah melalui akun media sosial lembaga yang terlibat.

Memilih Pusat Kota sebagai Lokasi Aksi
Selain konsolidasi, Shelvy menjelaskan alasan pemilihan lokasi aksi. Menurutnya, pihak penginisiasi semula merencanakan kegiatan di sekitar Masjid Raya Sumatera Barat. Namun, lokasi tersebut akhirnya tidak dipilih karena dinilai terlalu sempit.

Pihaknya kemudian memutuskan menggelar aksi di pusat Kota Padang agar masyarakat dapat mengetahui dan menyaksikan aksi unjuk rasa secara langsung.

Shelvy mengatakan, aksi dirancang sebagai kegiatan simbolik dan damai.

“Kita ingin gerakan mahasiswa tidak hanya terlihat melalui kegiatan di lingkungan kampus, tetapi juga hadir di ruang publik,” katanya.

Ia mengakui persiapan kegiatan berlangsung dalam waktu relatif singkat. Pada saat yang sama, sejumlah mahasiswa masih menjalani Ujian Tengah Semester (UTS) dan mengikuti perkuliahan.

“Kondisi cuaca yang sempat mendung dan hujan juga menjadi kendala selama persiapan,” tutupnya. (rar)

Wartawan: Zahra Mustika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Massa Bentangkan Spanduk Kritik Pemerintah soal Karhutla di Tugu Adipura Padang

Related Posts