Suarakampus.com – Dua orang bertopeng putih menggelar aksi simbolik menggunakan rumput dan lumpur dalam demonstrasi di gedung DPRD Sumatera Barat, Jalan Khatib Sulaiman No. 87, Selasa (27/10).
Berdasarkan pantauan Suarakampus.com, kedua orang tersebut duduk menghadap Tugu Adipura, kemudian mencampurkan rumput dan lumpur sebagai bagian dari pertunjukan simbolik dalam aksi tersebut.
Perwakilan masyarakat sipil Sumatera Barat, Ajo menjelaskan, pertunjukan tersebut menggambarkan kondisi masyarakat yang semakin kesulitan memenuhi kebutuhan hidup di tengah ketimpangan ekonomi dan kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.
“Di tengah kondisi kabut asap, seharusnya pemerintah melakukan penanganan dan pemulihan. Namun, masyarakat justru disuruh beradaptasi,” ujarnya.
Menurut Ajo, kondisi tersebut memperlihatkan persoalan dalam pemenuhan hak masyarakat atas lingkungan yang baik dan sehat. Di tengah kabut asap yang mengganggu aktivitas sehari-hari, masyarakat tetap harus bekerja dan menghadapi risiko kesehatan.
Ia memaparkan, rumput yang digunakan dalam pertunjukan melambangkan sumber kehidupan masyarakat yang berasal dari hasil tanah. Namun, alih fungsi lahan untuk berbagai proyek dinilai dapat membuat masyarakat kehilangan ruang hidup, sementara manfaatnya lebih banyak dinikmati pihak bermodal.
“Properti itu menggambarkan bahwa sumber kehidupan masyarakat berasal dari apa yang dihasilkan oleh tanah,”katanya.
Sementara itu, perwakilan Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI), Igo Marselino, menyebut pertunjukan tersebut sebagai bentuk protes terhadap maraknya kebakaran hutan.
Baginya, penggunaan lumpur dan miniatur pohon berkaitan dengan kondisi hutan gambut yang terbakar.
Kata Igo, gambut mengandung material organik dari tumbuhan yang telah mati, sehingga api dapat merambat dan bertahan di bawah permukaan tanah, meskipun api di permukaan telah padam.
“Bagian bawah permukaan tanah masih dapat menyimpan bara api,” katanya.
Igo menilai penanganan karhutla tidak bisa berhenti pada pemadaman api yang terlihat di permukaan.
“Pemerintah harus mengambil langkah konkret untuk menangani persoalan ini,” ujarnya.
Diakhir wawancara, Igo menegaskan, karhutla bukan kejadian baru dan tidak seharusnya hanya dikaitkan dengan cuaca panas atau ulah oknum tertentu. Ia mendesak pemerintah daerah dan pusat mengambil tindakan tegas serta langkah konkret.
“Kita sama-sama tahu bahwa hutan Indonesia sangat luas. Indonesia disebut sebagai paru-paru dunia. Namun, jika paru-parunya dirusak, dunia tidak akan sehat lagi,” pungkasnya. (rar)
Wartawan : Zahra Mustika