Oleh: Muhammad Rizki
Dentuman air yang deras,
membayangi pandangan mata ini,
untuk membukanya butuh energi,
agar tidak hilang arus nadi ini.
Tempat berpijak yang penuh intuisi,
seketika berubah menjadi ayunan tak terkendali,
memilih empati, hanya sia-sia tak terbenahi,
memilih hidup dengan selimut do-re-mi.
Tidak salah kalau kebenaran terkendali,
dalam irama yang tak terdengar.