Suarakampus.com – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bahasa UIN Imam Bonjol Padang menggelar webinar internasional bertema “Apply Scholarship to Study Abroad” . Webinar ini membahas #kaburajadulu yang mengudara dimedia sosial, pada Minggu (18/5).
Atqo Akmal, lulusan S2 dari Universitas Sebelas Maret, menjadi pemateri dengan membahas pentingnya bahasa sebagai kunci untuk studi dan bekerja di luar negeri.
Atqo membuka materi dengan menyoroti fenomena “kabur aja dulu” yang banyak dibicarakan anak muda. “Menurut saya ini menarik karena penuh pro dan kontra,” ujarnya.
Ia menilai fenomena tersebut muncul karena tekanan ekonomi dan sosial yang dihadapi generasi muda. “Orang mencari jalan keluar dari himpitan-himpitan yang ada,” katanya.
Krisis kepercayaan terhadap pemerintah dan politik juga jadi penyebab utama. “Banyak anak muda pesimis dengan masa depan bangsa kita,” ucapnya.
Ia juga menambahkan, angka pengangguran di Indonesia terus meningkat, terutama di kalangan lulusan perguruan tinggi. “Sekitar 840 ribu college graduate kesulitan mendapat pekerjaan,” jelasnya.
Atqo, juga menyoroti banyaknya anak muda Indonesia yang pindah kewarganegaraan. “Nearly 4000 orang berusia 25–35 tahun pindah jadi warga Singapura dari 2019–2022,” sebutnya.
Ia membandingkan jumlah mahasiswa Indonesia di luar negeri dengan negara lain yang lebih aktif. “Bahkan mahasiswa Filipina lebih banyak daripada Indonesia di Australia,” katanya.
Menurutnya, mahasiswa dari negara lain seperti India dan Cina gigih bekerja sambil kuliah. “Mereka kuliah bukan karena beasiswa, tapi karena kerja keras,” ungkapnya.
Atqo menjelaskan bahwa beasiswa luar negeri bukan hanya soal prestasi, tetapi juga mentalitas dan kesiapan. “Kita harus membangun mindset yang benar agar layak menerima beasiswa,” tuturnya.
Ia menekankan bahwa beasiswa bukan hanya bermanfaat bagi penerima, tapi juga lingkungan sekitarnya. “Beasiswa luar negeri itu tidak hanya untuk pribadi sendiri, tapi juga membawa manfaat lebih luas,” jelasnya.
Ia menilai, anak muda Indonesia perlu lebih berani keluar dari zona nyaman. “Pindah ke luar negeri itu bukan pilihan yang mudah, tapi membuka banyak peluang,” jelasnya.
Atqo menegaskan bahwa bahasa adalah kunci utama untuk membuka akses global. “Banyak yang punya potensi, tapi tidak punya kunci itu ya percuma,” tegasnya. (asr)
Wartawan: Fauziah Maharatih Wahyuni (Mg)