Ketika Cinta Tak Lagi Dicari, Antara Rasa yang Penuh di Rumah dan Keterikatan Emosional Sehat

Ilustrasi (sumber : Isyana Nurazizah Azwar/suarakampus.com)

oleh : Siti Ulami (Mahasiswi Prodi Komunikasi Penyiaran Islam, UIN Imam Bonjol Padang)

Di tengah budaya populer yang gemar merayakan cinta romantis sebagai tujuan hidup utama, tidak semua individu merasa perlu mencarinya di luar dirinya. Dalam diam, banyak yang telah digenapkan oleh cinta yang lain, seperti kasih orang tua yang jika hadir secara sehat dan penuh. Hal ini menjadi pondasi psikologis yang kuat, untuk tidak mudah haus akan cinta dari luar.

Fenomena ini jarang dibicarakan dalam narasi arus utama. Padahal, dari sisi psikologi perkembangan, hal ini sepenuhnya rasional dan bahkan sehat. Dalam tahap perkembangan psikososial menjelaskan, bahwa kelekatan emosional yang stabil di masa kanak-kanak terutama dari figur ayah dan ibu memberi bekal rasa aman (basic trust), yang membuat seseorang tumbuh dengan rasa utuh dan tidak bergantung pada afeksi eksternal.

Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang memiliki emosional hangat dan terbuka, cenderung memiliki harga diri yang lebih tinggi dan tidak mudah mengalami distress saat belum memiliki pasangan. Penelitian ini mendukung gagasan bahwa cinta romantis bukan satu-satunya sumber kesejahteraan emosional, apalagi jika sejak awal seseorang telah belajar mencintai dan dicintai dalam lingkar keluarga.

Di sisi lain, budaya digital dan media sosial sering menampilkan cinta romantis sebagai narasi tunggal kebahagiaan. TikTok, Instagram, dan drama Korea memperlihatkan cinta sebagai euforia, harapan hidup, bahkan penentu harga diri. Ini menciptakan tekanan sosial terselubung, tidak punya pasangan berarti ada yang salah. Padahal, cinta yang sehat seharusnya muncul dari individu yang sudah merasa cukup, bukan dari kekurangan yang mencari tambalan.

Rasa tertarik pada seseorang tetap wajar. Dalam bahasa psikologi, ini disebut “keterikatan awal” (initial attraction), yang merupakan reaksi emosional normal terhadap karakter atau gestur tertentu. Namun, keterikatan ini belum tentu berarti cinta. Banyak dari ketertarikan di awal justru lahir dari proyeksi emosi, rasa senang disalahartikan sebagai cinta, perhatian dikira sebagai ikatan. Padahal perasaan tertarik di awal bisa dipengaruhi oleh faktor biologis seperti dopamin, bukan karena kedalaman perasaan itu sendiri.

Di fase inilah pentingnya kestabilan batin seseorang diuji. Mereka yang tidak memiliki urgensi untuk dicintai, karena sudah digenapkan oleh afeksi keluarga dan persahabatan sehat, akan memandang ketertarikan sebagai sesuatu yang bisa diamati, bukan segera dimiliki. Ini bukan ketidakpekaan, melainkan kematangan emosional.

Mencintai orang tua secara mendalam bukan berarti menutup diri dari cinta romantis. Justru, ini adalah bentuk pemuliaan terhadap sumber kasih pertama dalam hidup. Ketika cinta kepada orang tua hadir secara tulus, seseorang akan lebih selektif, tidak ingin sembarangan membagi hatinya. Karena telah belajar tentang cinta dari sumber yang paling jujur, ia pun tak mudah silau oleh kasih yang hanya bersifat sementara atau manipulatif.

Secara spiritual, banyak ajaran agama termasuk dalam Islam yang mendorong umatnya untuk mencintai secara proporsional. Cinta kepada orang tua termasuk ke dalam bentuk cinta fithrah (yang alami dan sesuai fitrah), sementara cinta romantis kepada pasangan seharusnya dibangun atas dasar tanggung jawab, bukan ketergantungan emosional. Nabi Muhammad SAW pun menyatakan bahwa ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, yang menunjukkan betapa pentingnya posisi cinta keluarga sebagai landasan hidup.

Kesimpulannya, tidak semua orang harus, atau bahkan perlu, menjadikan cinta romantis sebagai prioritas utama. Ketika seseorang telah digenapkan oleh cinta dari rumah yang penuh kehangatan dan kepercayaan, ia tidak akan mencari dalam cinta yang baru sesuatu yang sebenarnya sudah ia miliki. Dan jika kelak cinta datang lagi, ia akan hadir bukan sebagai kebutuhan, tapi sebagai anugerah yang diterima dengan penuh kesadaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Seindah Senyuman Bunda

Next Post

Di Ujung Jalan

Related Posts