Kotak Hitam

Sumber: Dokumentasi Penulis

Oleh: Lativa Husna (Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab  Universitas Islam Maulana Malik Ibrahim Malang)

“Sekian dan terima kasih,” suara tepuk tangan langsung membanjiri kelas siang hari ini. Siapa yang tidak kagum pada gadis lucu itu, Maya. Parasnya menawan, otaknya cemerlang, dan senyumannya yang menghangatkan. Ah, siapa yang tidak terpesona dengannya? Andai aku cowok, sudah ku pinang dia dan ku jadikan satu-satunya di hatiku hahaha.

“Frey jadi ga temenin aku ke perpus? ” Suara lembut Maya meleburkan lamunanku. Tangan kanannya memegang kertas penelitian, sementara tangan kirinya menggenggam segelas matcha boba favoritnya. Tak lupa, senyum manisnya yang selalu terpancar lebar.

“Jadi dongg,” jawabku sambil menarik tangannya.

Siang hari ini, kampus panas seperti biasanya. Lorong penuh dengan celotehan dan candaan mahasiswa mengisi waktu kosong perkuliahan.

Duarrr!!!

Siapa sangka, seorang mahasiswa yang entah dari mana tiba-tiba menabrak tubuh Maya. Kertas penelitiannya basah kuyup karena tertumpah matcha boba favoritnya. Sialnya, orang itu pergi dan lari tanpa sepatah kata pun. Aku ingin berteriak dan mengejarnya. Tapi, Maya menahan tanganku dan tersenyum, “aman nanti aku print lagi aja.”

Sekali lagi dan sekali lagi pemirsa, aku terkagum dengan dirinya. Hatinya terlalu lembut, bak ibuk peri di film Baalveer. Jika aku di posisinya, mungkin aku akan berteriak dan terus memaki orang itu dengan beribu kata sumpah serapah. Tak peduli tatapan sinis orang lain, yang penting hatiku lega setelah mengumpat. 

Tapi lihatlah Maya. Ya Tuhan hati apa yang Engkau titipkan padanya? Ia hanya tenang sambil membersihkan sisa-sisa matcha yang tertumpah. Tak ada satupun ucapan kemarahan yang keluar dari mulutnya. Aku kembali membantunya, tapi dengan omelan kekesalan yang tak henti-hentinya.

Setelah drama yang panjang siang ini, seperti biasa kami berteduh di taman depan perpustakaan sambil menikmati sisa sore yang sejuk ini. Aku melihat Maya yang diam-diam membuka tasnya dan mengambil kotak hitam lalu menggenggamnya kuat. 

Aku sudah terbiasa dengan kebiasaan unik Maya yang satu ini. Setiap kali jam kosong, ia mengajakku ke taman menemaninya untuk melakukan “ritual sakral” itu. Entah apa isi kotak hitam itu, aku pun tidak tau dan tidak mau kepo. Yang jelas itu sangat berarti bagi dirinya.

Pagi ini sama dengan pagi sebelumnya. Aku bangun dengan kemalasan yang membandel dan bersiap ke kampus dengan hati yang menggerutu. Tapi aku merasa ada sedikit berbeda. Hatiku cemas tak karuan.

“Apa aku lupa membuat tugas ya? Atau karna harus ketemu wajah galak Pak Budi di kelas Metode Penelitian?”. Hatiku terus cemas dan otak berusaha mencari alasan.

Di kelas hari itu, aku melihat sesuatu yang berbeda. Maya memakai masker dan matanya bengkak. Ia hanya diam, lalu berbisik pelan di telingaku “Kamu liat kotak hitamku?”

Spontan aku melihat ke arahnya. “Hilang?” Tanyaku dengan nada terkejut dan sedikit keras.

“Jangan terlalu keras suaramu Frey, nanti yang lain kedengaran,” ujarnya. “ Seingatku terakhir aku melihatnya pas kita di taman Frey, pas di rumah aku liat lagi dia ilang,” sambungnya dengan suara menahan isak tangis.

 “Sudah nanti kita cari lagi, pasti akan ketemu,” jawabku berusaha membuatnya tenang.

Sudah dua jam kami mencari tapi hasilnya nihil. Kotak itu hilang tanpa jejak. Setelah berusaha mencarinya, kami memutuskan untuk melanjutkan pencarian esok hari. Aku tau kotak ini sangat berharga bagi Maya, tapi kalau tidak ketemu kami bisa buat apa.

Malam ini sedikit berbeda. Aku syok dengan pesan yang kuterima dari Maya.

Frey aku akan masuk kampus lewat pagar samping. Aku harus menemukannya. Setelah jam 10 kampus tutup, jam 11 aku akan mencobanya. Tak perlu khawatir aku pasti akan aman aja. 

Entah jin apa yang merasukinya, orang seanggun dia bisa berpikir seperti itu? Aku segera bersiap-siap dan menyusulnya. Jam 10.30 aku melihat Maya di balik semak-semak yang memantau keadaan kapan akan beraksi.

“May, kamu yakin?” Ucapku yang mengejutkannya.

“Frey! mengejutkan saja, kok kamu di sini? Aku bisa sendiri,” jawabnya sambil mengusirku.

“Gak! Gak! Gak! Kita masuk bareng,” kataku tegas. Tanpa banyak basa-basi kami berhasil melompat pagar. Rintangan pertama selesai, tapi jantungku sudah berdegup kencang, seperti drum perang yang tak henti.

Kami terus berjalan perlahan ke arah taman perpustakaan. Di kampusku, sangat diharamkan untuk berada di sana melebihi jam 10 malam. Makanya, kami sangat berhati-hati. Kalau sampai ketahuan, bisa diskorsing.

Langit malam menelan suara kami. Hanya bunyi gesekan daun dan langkah ragu yang menemani perjalanan menuju taman perpustakaan. Lampu taman sudah padam sejak dua jam lalu. Setiap langkah terdengar seperti denting peluru di udara.

“May, pelan-pelan… penjaga bisa keliling kapan aja,” bisikku.

Tapi Maya terus berjalan tanpa menoleh. Pandangannya kosong, seolah sesuatu memanggilnya dari dalam gelap. Aku menahan napas. Dari kejauhan, taman itu tampak berbeda dari siang tadi—lebih suram, seperti diselimuti kabut tipis yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Pohon flamboyan di tengah taman bergoyang pelan, meski angin tak terasa.

“Di sini, Frey… aku yakin di sini,” ucapnya lirih sambil menunduk di dekat bangku tua yang biasa kami duduki.

Aku ikut berjongkok, mencoba membantu menyibak daun-daun kering. Tiba-tiba, suara krak! terdengar dari arah semak. Kami berdua menoleh bersamaan nafas tercekat di dada.

“Angin?” tanyaku pelan, tapi tapi suaraku sendiri terdengar ragu, seperti bohong yang tak meyakinkan.

Maya tak menjawab. Matanya justru membesar. “Frey, itu…”

Di bawah cahaya bulan yang redup, aku melihat bayangan hitam melintas cepat di belakang pohon besar. Sekilas seperti seseorang sedang mengintip. Tubuhku menegang. Aku hampir saja menarik tangan Maya untuk lari, tapi ia malah berlutut, berusaha menggesarkan dua kayu besar itu.

“Maya! Ngapain kamu?” bisikku panik.

“Frey… aku tahu kotaknya di sini. Aku… aku bisa ngerasain,” suaranya bergetar.

Beberapa detik kemudian, jari-jarinya menyentuh sesuatu keras. Kotak itu.

Maya menatapnya lama, tanpa suara. Matanya berkaca-kaca. “Akhirnya…” katanya nyaris tak terdengar.

Aku duduk di sampingnya. “May, sebenarnya apa sih isi kotak ini?”

Ia menggigit bibir bawahnya, lalu perlahan membuka penutupnya, “Kotak i-…” ucapannya seketika terhenti mendengar suara langkah.

Suara langkah kaki terdengar dari arah gedung utama—penjaga malam. Kami spontan saling pandang.

“Maya, lari!” seruku.

Kami berlari menembus taman, nafas berpacu dengan degup jantung, kotak hitam itu menggenggam erat di tangan Maya. Saat sampai di balik pagar, Maya menoleh sebentar dan tersenyum tipis.

“Terima kasih, Frey. Kali ini aku nggak kehilangan apa pun.”

Keesokan harinya, aku berangkat ke kampus dengan perasaan campur aduk dan mata yang mengantuk. Tak bisa dibayangkan, bagaimana jadinya jika kami tidak berhasil lari dari penjaga semalam. Tapi aku masih penasaran dengan isi kotak itu. Kotak apa yang membuat Maya begitu takut kehilangannya. 

“Frey…!” Aku berusaha mencari sumber teriakan. Aku tau suara siapa itu. Siapa lagi kalau bukan Maya. 

Hari ini ia datang kembali seperti Maya yang kukenal. Dengan semangat yang tidak pernah surut. Aku tersenyum dan melambaian tangan padanya. Aku senang melihatnya bahagia tapi ada satu hal yang masih membayangiku. Ucapannya sebelum kita kembali semalam.

Frey terkadang kita hanya melihat bunganya, tak pernah melihat akar yang perlahan membusuk. Mereka memuji sinar, tapi tak tahu bayangan yang lahir bersamanya .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Dedikasi Berbuah Prestasi, Husnul Fauzani Raih Gelar Wisudawati Aktivis Kampus

Next Post

464 Wisudawan UIN IB Resmi Dikukuhkan, Rektor, Bawalah Madu Ilmu dan Mandat Kemaslahatan Umat

Related Posts

Rumput Tetangga

Oleh: Firga Ries Afdalia Tut..tut..tut… Nada sambung itu berbunyi sekaligus mengakhiri percakapan. Kebiasaan kaum rebahan menghabiskan akhir pekan…
Selengkapnya