Oleh : Haida Putri Lubis (Mahasiswi Prodi Komunikasi Penyiaran Islam)
Banjir sore itu datang tiba-tiba, air sungai meluap menghantam rumah-rumah kecil di pinggir kampung. Nur merintih kesakitan, tangannya memeluk perut yang penuh dengan rasa sakit. Bayi yang baru lahir menangis kecil, tubuhnya basah dan merah, di tengah kegelapan dan hujan deras yang menembus jendela rumah. Hujan membasahi seluruh tubuhnya, bercampur lumpur dan air sungai yang meluap.
Andri, suaminya, menggenggam tangan Nur dengan gemetar. “Nur… kita harus selamatkan anak-anak.” Tapi arus banjir terlalu deras. Rumah mereka sebagian hanyut. Anak sulung mereka yang masih berusia satu tahun lebih, digendong oleh tetangga. Nur menatap bayi yang baru lahir di pelukannya. Hatinya hancur, air mata bercampur dengan hujan. Ia tahu, jika ia tetap membawa dua bayi sekaligus, mereka semua bisa tenggelam.
Di tengah kepanikan itu, Darlia dan Habib adalah pasangan suami istri yang sudah lama menantikan seorang anak, mereka membantu evakuasi. Mereka melihat Nur memeluk Putrinya yang lemah.“Buk…pak…tolong… selamatkan dia…kami akan datang jika keadaan susah membaik”ucapnya.
Suara Nur pecah memberikan putrinya seakan memberikan separuh jiwanya. Darlia mengangguk, air mata membasahi pipinya. “Kami akan menjaganya, Nur… seperti anak kami sendiri.”Dengan berat hati, Nur menyerahkan Putrinya ke Darlia.
Ciuman terakhirnya di kening bayi itu seakan menjadi doa dan pengorbanan dalam mimpi dan penyesalan. Hujan masih deras, dan arus sungai masih mengamuk, seakan menelan semua harapan. Nur memandang Darlia pergi dengan putrinya, hatinya kosong namun penuh doa.
Lima tahun kemudian, sore itu tepi Kali Celiung disinari cahaya keemasan matahari yang menurun. Putri Diana adalah nama yang diberikan orang tua sambungnya kepada gadis kecil itu. Kini ia sudah berusia lima tahun, berlari kecil di tepi kali, tertawa sambil memungut batu, mengamati cipratan air yang mengenai kakinya.
Ia memanggil Darlia, “Bunda! Lihat batu cantik ini!”Darlia tersenyum, hatinya hangat melihat Putri bahagia. Ia adalah anak yang ia asuh sejak lahir. Habib berjalan di belakang, sesekali menoleh ke Putri dengan senyum hangat, hatinya campur aduk antara senang dan sedih melihat Putri tumbuh bahagia di bawah asuhan mereka.
Tiba-tiba, dari gerbang rumah muncul dua sosok asing namun tampak familiar bagi Darlia dan habib yaitu Nur dan Andri. Mata mereka basah, langkah tergesa. Mereka sudah kembali setelah lama tidak ada kabar, berniat menjemput Putri Diana, anak yang mereka titipkan saat banjir.“Putri Diana… namanya…” ujar Darlia sesegukan, sementara suara Nur bergetar, hampir tak terdengar, sambil memeluk putrinya yang tak sempat ia sayangi dan ia beri nama.
Putri menatap mereka dengan bingung. “Bun… bunda…?” Ia meraih tangan Darlia, panik.Darlia memeluknya erat. “Putri… jangan takut. Bunda di sini… itu mama Putri, sebutnya dengan nada berat.”Andri melangkah maju, menahan air mata. “Nak… kami orang tua kandungmu. Kami ingin membawa putri pulang ke rumah Mama Nur dan Papa Andri.
Putri menjerit, tubuhnya menolak. “Tidak! Bun… bunda…! Jangan bawa aku!bun….da….”Nur meneteskan air mata. Lima tahun menahan rindu, lima tahun merindukan putrinya, kini berhadapan dengan tangisan yang menusuk hati. Ternyata, putrinya tidak mengenalnya sama sekali.“Putri… lima tahun aku menunggu… lima tahun aku merindukanmu… ini mama…nak…ini… Mama…” suara seorang ibu yang berharap, namun nyaris hilang di antara deru kali.
Putri semakin meringkuk di pelukan Darlia. “Bunda… tolong… putri bun…!”Darlia menunduk, menahan tangis. “Nur… dia belum mengenal kalian… dia takut, jangan di paksa…”ucapnya berharap nur dan andri mengurungkan niatnya, untuk membawa pergi putri kecilnya.
Di tepi Kali Celiung, udara sore dipenuhi tangisan, jeritan, dan hati yang hancur. Andri akhirnya meraih Putri, tubuhnya kecil dan gemetar, mencoba menggendong anak yang bahkan tidak mengenalnya. Putri menatap Darlia terakhir kali, matanya berkaca. “Bunda… tolong… bunn…daaa…”Darlia menahan diri agar tidak meledak menangis. Habib menggenggam Putri sejenak, seolah ingin menyalurkan cinta yang tidak bisa dibawa pergi.
Sore itu, di tepi Kali Celiung, sebuah keluarga dipaksa bersatu kembali, sementara satu keluarga lainnya kehilangan anak yang telah mereka rawat selama lima tahun. Putri Diana digendong oleh orang yang tak ia kenal, hatinya penuh kebingungan dan ketakutan, sementara Darlia dan Habib menatap kepergiannya dengan dada remuk.
Air kali mengalir tenang, seolah mengejek manusia yang berjuang melawan takdir. Dan di sanalah, pulang yang terlalu terlambat itu bukan lagi kebahagiaan melainkan luka, kehilangan, dan cinta yang tersobek.