Oleh : Zahra Zaqhira Pilli
(Mahasiswi Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam)
Dunia kampus kembali menjadi bahan perbincangan hangat di media sosial. Kali ini, bukan soal UKT, skripsi, atau wisuda, melainkan sebuah pernyataan singkat namun tajam dari konten kreator TikTok @yuka_san__:“Kuliah itu scam.” Kalimat tersebut segera menyebar luas, memicu reaksi beragam, dan memancing banyak kreator lain untuk menggunakan fitur stitch di aplikasi tiktok sebagai bentuk tanggapan.
Bagi sebagian mahasiswa, pernyataan itu terasa mengganggu. Bagi yang lain, justru terasa dekat. Namun satu hal pasti, kalimat itu memaksa dunia kampus untuk kembali bercermin tentang apa arti kuliah sebenarnya.
Kuliah selama ini dipahami sebagai jalan utama menuju masa depan yang lebih baik. Sejak bangku sekolah, banyak siswa diarahkan untuk “lanjut kuliah agar sukses.” Namun realitas setelah lulus tidak selalu sejalan dengan narasi tersebut. Persaingan kerja yang ketat, tuntutan pengalaman, hingga ketimpangan antara teori dan praktik membuat sebagian lulusan merasa kecewa.
Di sinilah pernyataan “kuliah itu scam” menemukan momentumnya.
Namun di lingkungan kampus, pernyataan ini tidak diterima begitu saja. Banyak mahasiswa dan alumni menilai, kritik terhadap kuliah memang perlu, tetapi menyebutnya sebagai penipuan adalah bentuk penyederhanaan berlebihan terhadap sistem pendidikan yang kompleks.
Fenomena stitch dari para konten kreator, termasuk mahasiswa, alumni, hingga dosen, menjadi bukti bahwa media sosial kini berfungsi sebagai ruang diskusi alternatif. Banyak dari mereka menyampaikan pengalaman pribadi, ada yang mengaku kuliah membantunya berpikir kritis, ada yang merasakan manfaat jaringan pertemanan, dan ada pula yang mengatakan bahwa kuliah tidak langsung menghasilkan uang, tetapi membentuk cara memandang hidup.
Beberapa mahasiswa juga menegaskan bahwa kekecewaan terhadap hasil setelah lulus sering kali berasal dari ekspektasi yang tidak realistis, bukan semata-mata kesalahan pendidikan tinggi. Kampus bukan pabrik pekerja instan, melainkan ruang belajar yang menuntut proses dan usaha mandiri.
Di dunia kampus, satu hal yang terus ditekankan adalah bahwa ijazah bukan jaminan segalanya. Namun ijazah juga bukan sesuatu yang sia-sia. Ia adalah alat, bukan tujuan akhir. Sayangnya, narasi di luar sering kali menyederhanakan makna kuliah hanya pada hasil ekonomi.
Banyak mahasiswa menyadari bahwa kuliah menuntut lebih dari sekadar hadir di kelas. Organisasi, magang, riset, diskusi, dan pengembangan diri adalah bagian yang tak terpisahkan. Ketika semua itu diabaikan, wajar jika hasil yang didapat terasa tidak sebanding.
Dalam konteks ini, menyebut kuliah sebagai “scam” justru mengaburkan tanggung jawab individu dalam memanfaatkan ruang belajar yang tersedia.
Media sosial bekerja dengan logika singkat dan sensasional. Kalimat provokatif lebih mudah viral dibanding penjelasan panjang yang bernuansa. Namun bagi mahasiswa yang terbiasa dengan analisis dan argumen, generalisasi semacam ini patut dipertanyakan.
Pengalaman satu orang tidak bisa mewakili jutaan mahasiswa dengan latar belakang, jurusan, dan kondisi yang berbeda. Kuliah di setiap kampus, setiap program studi, bahkan setiap angkatan, memiliki dinamika yang unik.
Di sinilah peran literasi kritis mahasiswa diuji: mampu memilah opini, memahami konteks, dan tidak menelan mentah-mentah narasi viral.
Banyak mahasiswa sepakat bahwa kuliah bukan satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Dunia hari ini membuka banyak alternatif: wirausaha, pekerja kreatif, hingga jalur vokasi. Memilih tidak kuliah adalah keputusan yang sah.
Namun, menyadari adanya alternatif bukan berarti meniadakan nilai pendidikan tinggi. Kampus tetap memiliki peran penting dalam mencetak tenaga profesional, peneliti, pendidik, dan pemikir kritis. Tanpa pendidikan tinggi, banyak kemajuan ilmu dan teknologi tidak akan lahir.
Kuliah bukan jebakan. Ia adalah pilihan—yang menuntut kesadaran, kesiapan, dan tanggung jawab.
Pernyataan viral dari @yuka_san__ seharusnya tidak hanya dipandang sebagai kontroversi, tetapi juga sebagai bahan refleksi. Dunia kampus perlu terus berbenah, memperkuat keterkaitan antara teori dan praktik, membuka ruang dialog dengan mahasiswa, serta menyiapkan lulusan yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Di sisi lain, mahasiswa juga perlu memahami bahwa kuliah bukan proses instan. Nilai pendidikan sering kali baru terasa bertahun-tahun kemudian, dalam cara berpikir, mengambil keputusan, dan memandang kehidupan.
Pada akhirnya, perdebatan “kuliah itu scam” menunjukkan satu hal penting: pendidikan tinggi masih relevan untuk dibicarakan, dipertanyakan, dan diperbaiki.
Dan di tengah riuh media sosial, kampus tetap menjadi ruang terbaik untuk satu hal yang paling mendasar, belajar berpikir, bukan sekadar percaya.