Mahasiswa Bahasa Arab Sering dikira Ustaz, Padahal Galau Tugas Nahwu Sharf

Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis


Oleh: (Fikri Alhamdi) Mahasiswa Universitas Islam negeri Imam Bonjol Padang


Mahasiswa Jurusan Bahasa Arab di UIN sering dianggap bisa khutbah, jago debat agama, dan fasih ngaji. Padahal, kenyataannya mereka juga manusia biasa yang bisa salah baca fi’il dan pusing bedain antara ism dan fi’il.
“Wah, anak Bahasa Arab, ya? Bisa dong bacain doa pembuka!”
Pernah dengar kalimat kayak gitu? Atau jangan-jangan kamu juga pernah mengatakan ke temanmu yang kuliah di Jurusan Bahasa Arab? Kalau iya, yuk kita duduk dulu, ngopi bareng, dan ngomongin betapa ‘beratnya’ ekspektasi publik terhadap anak-anak jurusan ini.
Adalah Erpin (21), mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab di UIN Imam Bonjol Padang, yang jadi langganan mimpin doa dan azan di acara kampus, bahkan kadang di nikahan tetangga kos. Padahal, ia mengaku kadang masih suka gugup baca doa iftitah kalau disuruh jadi imam shalat dadakan.
“Yang lucu tuh, pas awal kuliah, banyak teman-teman dari jurusan lain mikir kita ini paham banget semua tafsir Al-Qur’an dan sejarah Islam. Padahal kita baru belajar beda antara idhafah haqiqiyah sama idhafah lafdziyah,” kata Erpin sambil tertawa getir saat berdiskusi dengan saya (Rabu, 5 Juni 2025).
Lulusan bahasa Arab, Jadi Apa? Ustaz? Dosen? Penerjemah Kitab Kuning?
Pertanyaan klasik itu kayaknya udah jadi pertanyaan abadi buat anak-anak Bahasa Arab. Bahkan kadang bukan sekadar pertanyaan, tapi langsung tuduhan, “Oh pasti nanti jadi ustaz, ya?”
“Saya pernah waktu pulang kampung ke Aceh, ditodong ceramah ba’da Maghrib di masjid komplek. Katanya ‘Kan kuliah di Arab-Araban, pasti bisa dakwah!’ Padahal saya kuliahnya fokus linguistik, bukan dakwah,” ujar Erpin.
Ia melanjutkan, banyak yang nggak tahu kalau Jurusan Bahasa Arab di kampus Islam itu bukan cuma belajar agama. Tapi juga ngebedah bahasa secara struktural, dari fonologi, morfologi, sintaksis, sampai semantik. “Belum lagi teori-teori linguistik modern, yang kadang lebih bikin sakit kepala dari pada patah hati,” tambahnya.
Kenapa Pilih Bahasa Arab? Emangnya Nggak Mau Jadi Anak Hits Komunikasi atau DKV?
Erpin cerita, pilih jurusan ini bukan karena kehabisan opsi. Justru karena waktu SMA, ia sering jadi tempat curhat teman-temannya yang lagi struggle belajar Al-Qur’an atau bingung makna ayat. Dari situ, muncul rasa penasaran tentang struktur bahasa Arab.
“Saya suka aja ngebongkar-bongkar ayat Al-Qur’an dari sisi bahasa, bukan hanya tafsir. Saya ingin mengetahui kata ‘rahmah’ bisa punya makna berlapis, atau kenapa bentuk fi’il madhi dan mudhari’ bisa mengubah nuansa,” jelasnya.
Selain itu, menurut Erpin, belajar Bahasa Arab juga mengajarkan soal budaya, sastra, bahkan politik dunia Arab. Jadi tidak selalu soal agama.
Stereotip Mahasiswa Bahasa Arab: Selalu Sopan, Hafal Doa, dan tidak Pernah Nonton Drakor
Erpin bilang, ekspektasi orang terhadap mahasiswa Bahasa Arab tuh kadang lucu-lucu ngeselin. Misalnya, dikira nggak boleh ngopi di kafe, harus selalu bawa kitab kuning, dan kalau update story WA harus seputar hadis atau quote Imam Syafi’i.
Padahal, realitanya nggak gitu. “Anak Bahasa Arab juga manusia. Kita juga nonton YouTube, follow akun lawak, bahkan ada temen sekelas saya yang koleksi photocard K-Pop, tapi tetap hafal Alfiyah Ibnu Malik,” katanya sambil ngakak.
Ia juga mengaku, banyak mahasiswa Bahasa Arab yang malah punya skill komunikasi dan nulis luar biasa. Beberapa jadi penulis, content creator, bahkan ada yang jadi aktivis sosial dan ikut konferensi internasional.
Balik Kampung dan Ngajar Bahasa Arab: Dari Dipandang Sebelah Mata Jadi Narasumber Tetap Pengajian
Setelah lulus nanti, Erpin punya niat balik ke kampung dan jadi penggerak literasi Bahasa Arab di pesantren sekitar. Meski sempat diremehkan karena “anak Bahasa Arab mau kerja apa?”, kini ia sering diminta mengisi pelatihan baca kitab di daerahnya.
“Saya ingin buktiin kalau Bahasa Arab itu nggak kalah keren dari jurusan lain. Bukan cuma soal ceramah, tapi juga soal budaya, komunikasi lintas negara, bahkan diplomasi internasional,” katanya.
Dan yang paling penting menurut Erpin, Bahasa Arab bukan cuma ‘bahasa agama’, tapi juga ‘bahasa dunia’. Karena dari bahasa ini, peradaban Islam dulu pernah jadi mercusuar ilmu pengetahuan.
Jadi, kalau kamu ketemu mahasiswa Bahasa Arab, jangan buru-buru minta dibacain doa atau ditanyain arti mimpi. Coba ajak diskusi soal puisi Jahiliyah atau perbedaan antara balaghah dan ma’ani. Siapa tahu, dari obrolan ringan itu, kamu justru belajar lebih dalam soal kekayaan bahasa yang satu ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

TABLOID LPM SUARA KAMPUS EDISI 156

Next Post

Botol Kosong di Atas Bukit

Related Posts