Suarakampus.com- Dusun Salappa, Kepulauan Mentawai masih diselimuti kegelapan sebab terbatasnya akses listrik dan penerangan. Program panel surya 2006 tidak mampu menjadi solusi untuk kebutuhan masyarakat, Selasa (23/12).
Afriyadi Satenong mengungkapkan, panel surya mulai masuk ke Salappa di tahun 2006. “Panel surya dibawa melalui program kepala desa,“ ungkapnya.
Ia menjelaskan, panel surya digunakan sebagai pengganti listrik yang hanya bertahan tiga tahun paling lama. “Setelahnya baterai dan aki harus diganti,” jelasnya.
Menurut Afriyadi, masyarakat dengan keterbatasan ekonomi tentu terkendala dalam hal ini. “Biaya penggatian perangkat sangat mahal,“ tuturnya.
Kepala Dusun Salappa, Natalinus menyebutkan, warga menerima bantuan panel surya dari pemerintah dengan usia pakai sangat singkat. “Setelahnya, hampir seluruh warga tidak lagi punya lampu,” jelasnya.
Ia memaparkan, warga harus membeli aki secara mandiri setelah masa pakai berakhir. “untuk satu aki dan lampu saja setidaknya 500 ribu, kemana dicari uanganya?” ujarnya.
Sementara itu, Juprianto menyebutkan, panel surya hanya bertahan dua jam dalam sehari. “Setelahnya kami kembali hidup dalam kegelapan,” sebutnya.
Ia menambahkan, masyarakat hanya mengandalkan senter atau lampu cas kecil jika tenaganya mati. “Lampu togok dan senter kecil jadi alternatif,“ tambahnya.
Menutup wawancara, Juprianto berharap agar jaringan listrik PLN dapat masuk ke Salappa. “Berilah kami nyawa, agar tidak merasa mati dan tidak berada,” tutupnya. (Red)
Wartawan : Zahra Mustika dan Elsa Mayora